Membuka Lahan Dengan Dibakar, Pemicu Maraknya Kebakaran Hutan
Tgl: 11/11/2012 09:56 Reporter: Sugandi

KBRN, Jakarta: Pemerintah mengakui kebakaran hutan meningkat setiap tahunnya. Hotspot atau titik panas pada tahun 2010 sebanyak 9.500, kemudian naik pada tahun berikutnya menjadi 25.922 dan jumlah titik api hingga Oktober 2012 mencapai 31.800, yang tersebar di Provinsi Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan RI, Kurnia Rauf menjelaskan kebiasaan buruk masyarakat yang membakar hutan dalam membuka lahan baru menjadi pemicu maraknya kebakaran hutan.

“Membakar dianggap paling murah dan mudah dalam membersihkan lahan. Inilah yang sulit diubah masyarakat kita dan pelaku dibidang pertanian dan pergunakan masih menggunakan cara lama. Kami mengakui belakangan semakin tinggi intensitas  kebakaran hutan dan lahan,” kata Kurnia Rauf, dalam dialog bersama Pro 3 RRI, Minggu (11/11/2012).

Selain itu, musim kemarau yang berkepanjangan menjadi pemicu maraknya munculnya titik api yang mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. Sesuai dengan prediksi BMKG, musim kemarau untuk kali ini lebih lama dan lebih kering. Kondisi normal, seharusnya hujan sudah turun pada September namun hujan baru turun pada Oktober.

Namun pemerintah mengklaim titik api masih dapat dikendalikan. “Sampai saat ini, kejadian kebakaran lahan dan hutan, menurut hemat kami masih dapat dikendalikan kendati dibeberapa provinsi terjadi asap yang mengganggu”.

Untuk mencegah semakin meluasnya titik api, pemerintah merangkul bersama masyarakat untuk mengatasi kebakaran hutan. Pemerintah telah membentuk tim khusus yakni Manggala Agni dengan jumlah anggota mencapai 1.635 orang yang tersebar di 10 provinsi rawan kebakaran lahan dan hutan. Manggala Agni telah dilengkapi prasarana dan sarana sesuai standar. Manggala Agni nantinya akan melakukan pelatihan dan sosialiasi kepada masyarakat agar menghentikan kebiasaan buruk membakar lahan hutan.

Manggala Agni harus memberikan contoh kepada masyarakat tentang pengelolaan lahan tanpa membakar lahan. “Misal membuat pupuk hijau, membagikan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk masyarakat,” jelasnya.

Pemerintah pusat bersama daerah juga terus melakukan pembinaan untuk anggota Manggala Agni khususnya dalam penggunaan alat untuk meningkatkan kemampuan. Manggala Agni memiliki anggota dari berbagai unsur elemen masyarakat. “Kita ada yang dari PNS, masyarakat. Siapa saja bisa menjadi anggota Manggala Agni,” tegasnya. (Sgd/AKS)


Audio


Komentar Anda:

copyright© 2012 Radio Republik Indonesia - Kantor Berita Radio Nasional