• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Nelayan Tidak Melaut, Ikan langka di Pasar Tradisional

25 April
10:50 2019
0 Votes (0)

KBRN, Gunungsitoli: Angin yang bertiup menghembuskan bau amis yang menyengat, suasana tampak sepi, meja-meja pedagang ikan kosong melompong. Pasar Luaha yang biasanya menjadi tujuan warga di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara membeli ikan sejak sepekan terakhir tampak sepi dari aktifitas jual beli.

Biasanya sejak pukul 15 wib, pasar ini sudah mulai ramai didatangi warga yang hendak membeli ikan-ikan segar dari berbagai jenis, dipasar ini ada sekitar 20 penjual ikan. Namun kelangkaan ikan membuat lapak-lapak ditinggalkan oleh pemiliknya, hanya satu dua pedagang ikan yang masih berjualan.

Salah satu lapak yang ramai dikerumuni warga hanya menjual 1 jenis ikan yakni dencis kecil, jumlahnya yang tidak banyak diperebutkan para ibu, padahal harganya jauh diatas normal, biasanya 1 kilogram berkisar 30-35 ribu, namun kini dipatok 70 ribu, ibu-ibu terlihat hanya pasrah dan terpaksa membeli secukupnya saja.

“ Ini memang sudah mahal, kemarin saja masih bisa dijual Rp.60 ribu/kg, ini pun tidak banyak tadi saya dapat dari nelayan,” tutur Rasali Zalukhu, Kamis (25/4/2019).

Tidak jauh dari lapak itu, tampak seorang ibu sedang membeli ikan dencis besar dalam jumlah cukup banyak. Sekilas melihat ikan tersebut sudah tidak segar, namun kebutuhan untuk usaha membuat ia terpaksa harus membelinya juga.

“Yah mau gimana lagi lah, ga mungkin saya ga masak ikan untuk warung makan, bisa-bisa langganan lari semua nanti,” keluh Yanti.

Ia mengatakan sudah seminggu ini ia kesusahan menemukan ikan segar untuk warung makannya, tidak hanya di pasar Luaha, di pasar Nou dan pasar Pagi juga tidak ada ikan.

Murni, pedagang ikan bersama suaminya mengaku ketiadaan ikan akibat badai sehingga nelayan tidak berani melaut, ia memperkirakan kondisi ini akan berlangsung selama 2 pekan.

Agar tetap bisa berjualan, para pedagang ikan menjajakan ikan-ikan yang mutunya sudah tidak layak jual, terlihat dari warnanya yang layu dan dagingnya yang hancur saat dipencet. Ternyata ada saja warga yang bersedia membeli ikan-ikan tersebut.

“Ini kepala-kepala ikan tongkol kami jual Rp.60 ribu/kg, biar gini-gini ada juga warga yang beli daripada tidak makan ikan,”pungkasnya.

  • Tentang Penulis

    Indah Febriyanti Bu'ulolo

    Reporter RRI Gunungsitoli<br />

  • Tentang Editor

    Indah Febriyanti Bu'ulolo

    Reporter RRI Gunungsitoli<br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00