• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

KEPULAUAN NIAS

Anak-anak Pemulung Kawasan Remeling Rayakan Hari Anak-anak Jalanan Internasional

31 January
16:22 2019
0 Votes (0)

KBRN, Gunungsitoli: Kawasan remeling, Kelurahan Ilir, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara memang menjadi pemukiman warga dari berbagai pelosok di kepulauan Nias, warga yang direlokasi dari sejumlah tempat gusuran, kawasannya kumuh dan dihuni kurang lebih 250 KK yang umumnya berprofesi sebagai pemulung hingga ke anak-anak.

Pada peringatan Hari Anak anak Jalanan Internasional Kamis (31/1/2019), RRI Gunungsitoli menggelar Dialog Issu Aktual luar Studio di kawasan yang dulunya terkenal sebagai pabrik pengolahan karet. 2 orang anak-anak yang berprofesi Sebagai pemulung yakni Satria Lase dan Nuru yang bertempat tinggal di kawasan itu bertutur bahwa setiap hari sebelum ke sekolah mereka harus berkeliling mencari karton bekas untuk dijual, aktivitas ini akan mereka lakukan kembali sepulang sekolah. Nuru dan Satria tercatat sebagai murid kelas III SD Afilaza, mereka terpaksa bergerilya di jalan-jalan untuk mencari karton yang nantinya oleh orang tua mereka dijual untuk memenuhi nafkah setiap hari.

“Kami cari kartonnya di pasar hingga ke pelabuhan kak”, ucap Nuru lirih.

Menurut Ridho Hulu pendamping Komunitas Peskar atau Persatuan Karya Anak Remeling yang dibentuk oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Cabang Nias, Nuru dan Satria adalah 2 dari sekitar 40 anak-anak yang berprofesi sebagai pemulung dan sudah masuk komunitas Peskar, sebagian masih sekolah, sebagian sekolah tidak sekolah bahkan memilih untuk tidak kesekolah karena keasikan mencari uang.

Menurut Ridho, anak-anak pemulung ini sangat rentan mengalami kejahatan di jalanan, beberapa dari mereka mengalami tindakan kassar dari preman-preman, belum lagi stigma yang terbentuk di masyarakat jika melihat mereka, ada yang menuduh mereka mencuri dan lain sebagainya.

“Rentan sekali, apalagi mereka memulung hingga malam hari, kadang mereka dikasarin sama preman”, tutur Ridho prihatin.

Lewat Peskar anak-anak pemulung ini diajak untuk menikmati dunia anak-anak yang seharusnya mereka alami, mereka memiliki klub futsal lengkap dengan seragam tim dan mereka diajari mengenal computer dan banyak kegiatan positif lainnya.

“Ini wadah mereka untuk bermain selayaknya mereka sebagai seorang “anak”, tambah Rido.

Pada kesempatan yang sama Konselor Kak Sen Laia mengatakan jika keluarga-keluarga di kawasan remeling diedukasi tentang betapa pentingnya menempatkan seorang anak pada situasi dan kondisi yang seharusnya dialaminya sama seperti anak-anak lain tentu anak-anak itu tidak dibiarkan bertarung di jalan untuk mengais rezeki. Jika edukasi kepada orang tua berhasil maka para orang tua tentu berpikir bagaimana cara memenuhi kebutuhan keluarga tanpa melibatkan si anak dalam proses itu, mereka memahami bahwa dengan menghabiskan waktu dijalanan maka secara mental, fisik, phisikis sangat berdampak.

“Otomatis secara mental mereka akan dipengaruhi oleh hal-hal yang mereka temui di jalanan, ini yang harus diwaspadai”, jelas Shen. (IND)

  • Tentang Penulis

    Indah Febriyanti Bu'ulolo

    Reporter RRI Gunungsitoli<br />

  • Tentang Editor

    Indah Febriyanti Bu'ulolo

    Reporter RRI Gunungsitoli<br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00