• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya Dan Pariwisata

Komunitas WOW Produksi Film Laowomaru: Pusaka Terlarang

8 January
13:50 2019
0 Votes (0)

KBRN, Gunungsitoli: Komunitas WOW (Walk on Water) kumpulan anak muda pecinta videografi dan sinematografi di Kota Gunungsitoli menjadi tamu Dialog Issu Aktual Pro RRI Gunungsitoli, Selasa (8/1/2019).

Restanti Waruwu sebagai Ketua Komunitas mengatakan sebagai milenial mereka ingin menghasilkan karya yang berdampak bagi anak-anak muda lainnya. Terpikirlah untuk membuat sebuah film sesuai dengan passion rata-rata anggota komunitas tersebut. Tidak menunggu lama, mereka langsung action, bikin proposal dan mulai menulis naskah. Setelah berdiskusi, mereka memutuskan mengangkat legenda Laowomaru. Mengapa Laowomaru? Karena Legenda ini bagi mereka menarik dan unik dan sebuah tantangan tersendiri untuk mengangkat legenda ini menjadi sebuah film.

“Kita kasih judul Laowamaru: Pusaka Terlarang, karena WOW ingin memberikan warna baru di dunia perfilman Nias”, tutur Restanti Putri Pariwisata Nias 2016 yang juga masih kuliah di IKIP Gunungsitoli Jurusan Ekonomi ini.

“Syutingnya jalan, Proposalnya juga jalan”, ungkap Markus F. Harefa Sutradara Film Laowomaru: Pusaka Terlarang saat ditanya bagaimana mereka memulai proyek tersebut.

Menurutnya persis seperti nama Komunitasnya WOW, Walk On Water, sesuatu yang mustahil sebenarnya namun mereka bertekad mampu melakukannya, meski dengan anggaran yang terbatas.

Sebagai sutradara dan penulis naskah, ia melakukan riset dan berkonsultasi dengan Tokoh Masyarakat Agus Mendrofa dan Direktur Museum Pusaka Nias. Dari hasil riset ternyata legenda Laowomaru terdiri dari 3 versi dan mereka mengangkat versi Sundermann.

“Di plot awal nanti kita akan jelaskan legenda Laowomaru, supaya penonton paham masuk ke alur film”, jelas pria bertubuh kurus ini.

Melalui film ini WOW juga berkomitmen untuk mempromosikan objek-objek wisata di seluruh kepulauan Nias, tidak heran  hampir 70% syuting berlokasi di spot-spot pariwisata.

Film yang bertema Adventure ini berbeda dari film-film Nias yang sudah ada sebelumnya yakni menggunakan bahasa Indonesia dengan durasi kurang lebih 90 menit. Alasannya menurut Markus karena film ini bakal dilombakan pada  Festival Film Indie Indonesia.

Ritan Timi Harefa yang turut hadir di studio RRI Gunungsitoli mengaku bangga bisa menjadi pemeran film Laowomaru: Pusaka Terlarang.

“Awalnya tidak gampang yah namun berkat pengarahan sutradara akhirnya bisa juga”, tuturnya sambil tersenyum.

Saat ini, film ini sudah 90% rampung, proses produksi telah selesai, WOW sudah launching trailer / teaser pada Desember lalu dan tanggal 4 Januari yang lalu  trailer kedua dirilis, dimana pemesanan juga sudah dapat dilakukan. Rencana akan adakan nobar (nonton bareng) eksklusif di bulan Februari.

WOW yang menjadi tamu di Dialog Issu Aktual di Pro 1 RRI Gunungsitoli pagi tadi juga memberikan hadiah Tiket Gratis Nonton Film Laowomaru : Pusaka Terlarang yang dimenangkan oleh Rudi di Sawo dan Bapak Ama Ziagus dari Desa Lololakha kecamatan Gunungsitoli. (IND)


  • Tentang Penulis

    Indah Febriyanti Bu'ulolo

    Reporter RRI Gunungsitoli<br />

  • Tentang Editor

    Indah Febriyanti Bu'ulolo

    Reporter RRI Gunungsitoli<br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00