• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ruang Krama Bali

Pelindo III Komit Menjaga Harmonisasi Adat dan Budaya Bali

23 February
16:36 2020

KBRN, Pelabuhan Benoa : Direktur Utama Pelindo III Doso Agung bersama Gubernur Bali Wayan Koster meresmikan lokasi upacara keagamaan dan upacara, di area Melasti kawasan Pelabuhan Benoa, Minggu (23/2/2020). Peresmian itu turut dihadiri ribuan masyarakat desa adat di Bali. 

Area yang pembangunannya telah diselesaikan oleh Pelindo III untuk desa adat sekitar tersebut, sekaligus diserahkan pengoperasiannya kepada warga sekitar. Harapannya area itu dapat langsung digunakan untuk kegiatan agama atau upacara adat.

Direktur Utama Pelindo III Doso Agung menjelaskan pembangunan tempat ibadah ini bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat di sekitar Pelabuhan Benoa.

"Pembangunan tempat melasti ini merupakan bentuk kepedulian Pelindo III kepada masyarakat. Pelindo III terus berupaya untuk hadir tidak hanya dalam meningkatkan perekonomian Bali, namun juga bisa hadir dalam berbagai kebutuhan sosial masyarakat Bali. Dan semoga dengan kami sediakan lokasi melasti ini, warga desa adat sekitar khususnya warga desa Pedungan bisa lebih khitmad dalam menjalankan ibadah," katanya disela-sela kegiatan tersebut.

Ia mengatakan, pembangunan area melasti bagi warga desa adat adalah bagian rencana pengembangan kawasan Pelabuhan Benoa sebagai Bali Maritime Tourism Hub. Pihaknya disebut telah membangun area peribadatan seluas kurang lebih 1,1 hektare. Lahan itu terdiri dari lokasi parkir dan area suci atau area sembahyang. 

"Warga desa adat sekitar bisa langsung menggunakan lokasi tersebut untuk berbagai kegiatan adat dan agama seperti tempat ibadah dan upacara pensucian pretina yang dilaksanakan saat menyambut Hari Raya Nyepi serta untuk upacara penghanyutan abu jenazah pada saat upacara Ngaben," ucapnya. 
  
Direktur Utama Pelindo III lebih lanjut menyampaikan, Pelabuhan Benoa Baru akan mengakomodir kemajuan teknologi dengan pembangunan yang berpedoman pada “Nangun Sat Kerthi Loka Bali". Hal itu diakui sejalan dengan canangan Gubernur untuk menuju Bali Era Baru. 

"Kalimat tersebut memiliki arti menjaga kesucian dan keharmonisan Bali beserta isinya," ujar Doso Agung. 

Gubernur Bali, Wayan Koster pada kesempatan yang sama mengapresiasi perhatian Pelindo III terhadap masyarakat Pulau Dewata. Perhatian itu dikatakan Koster tidak hanya dari sektor ekonomi, akan tetapi juga untuk sisi sosial. 

"Dengan membangun area melasti tersebut, kami berharap masyarakat Bali bersama dengan Pemerintah setempat bisa terus bersinergi dengan Pelindo III guna memajukan wilayah Bali," ungkap Koster. 

Mantan Anggota Komisi X DPR RI ini juga mengajak masyarakat Bali mendukung pembangunan Pelabuhan Benoa yang telah didesain dengan berpedoman pada “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali Era Baru. Pembangunan dan penataan Pelabuhan Benoa terintegrasi utuh, sehingga nantinya akan menjadi pelabuhan berkelas dunia, yang perancangannya telah disetujui oleh 10 kementerian pada tanggal 13 – 14 Februari 2020.

"Saya bersama Direktur Utama Pelindo III menyusun dan merancang kawasan ini menjadi bagian pengembangan Pelabuhan Benoa sebagai pelabuhan terindah di dunia nantinya. Saya meminta kepada seluruh masyarakat Bali, dukung pengembangan Pelabuhan Benoa," tuturnya. 

"Karena pembangunan ini tidak hanya untuk sarana ibadah, namun juga akan berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Denpasar. Jadi ini untuk kepentingan bersama, baik masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pelindo III," sambung Koster. 

Bendesa Adat Pedungan, I Gusti Putu Budiarta pun menyampaikan ungkapan terima kasih kepada Pelindo III. Ia mengatakan, warga merasa sangat terbantu dengan pembangunan tempat ibadah tersebut. 

“Selain dapat menampung lebih dari 20 ribu umat hindu di wilayah Pedungan Bali, Pelindo III juga telah melakukan pendalaman di sekitar area ibadah, sehingga dapat mengakomodir kebutuhan tirta (air) untuk proses upacara penghanyutan abu jenazah dalam tradisi agama Hindu Bali. Selama ini, masyarakat kami telah lama mengharapkan terwujudnya sebuah tempat berupa sarana pemelisan dan penganyudan abu jenazah karena masyarakat Desa Adat Pedungan melakukan upacara pemelastian di sekitar daerah tersebut," paparnya. 

"Sebelum dibangun yang sekarang ini, areanya kecil dan kurang mengakomodir kebutuhan, sehingga dalam pelaksanaan upacara pemelastian tersebut kurang khidmat,” pungkas Bendesa Adat Pedungan Denpasar Selatan yang juga Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali tersebut. 

 

LIVE
Radio Picture RRI Denpasar
00:00:00 / 00:00:00