• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

"Teror" Ular, BKSDA Bali: Bukan Fenomena Luar Biasa

18 January
11:04 2020
0 Votes (0)

KBRN, Denpasar : "Teror" ular menjadi perhatian masyarakat luas dalam beberapa waktu terakhir. Bagaimana tidak, beberapa wilayah di Jawa dan Bali, keberadaan reptil ini sempat mengejutkan sejumlah warga.

 

Hal ini lantaran maraknya penemuan ular disekitar lingkungan masyarakat. Tidak hanya di selokan, hewan karnivora ini tak jarang dijumpai di dalam kediaman warga.

 

Kasubbag Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Prawono Meruanto memastikan kejadian itu bukanlah fenomena luar biasa.

 

"Pada masanya memang diawal-awal musim hujan ini, hampir semua jenis reptil itu khususnya ular memang telur-telur yang sudah disimpan hampir kurang lebih dua bulan itu memang akan menetas. Jadi bukan fenomena yang luar biasa, karena memang siklusnya seperti itu," katanya ketika dikonfirmasi RRI di Denpasar, Sabtu (18/1/2020).

 

Mengenai maraknya ular yang masuk kediaman warga, pria yang akrab disapa Anto itu berpandangan, kondisi ini merupakan buah dari ulah manusia. Menurutnya, ruang yang selama ini menjadi habitat ular, telah beralih fungsi.

 

"Disaat mereka menetas mungkin waktu itu belum ada bangunan. Nah selama dua bulan itu perkembangan pembangunan, kemudian kehidupan manusia kan juga tetap terus berkembang seiring dengan jalannya waktu. Jadi kemudian tidak menyalahkan ularnya, kalau kemudian dia menetas, dan diatasnya sudah ada bangunan," ujarnya.

 

"Sebenarnya yang menjadi penyebabnya ya memang laju perkembangan pembangunan, kemudian tingkat manusia juga, yang merusak habitat itu. Habitat ular tersebut," lanjut Anto.

 

Anto menuturkan, sepanjang tahun 2019, BKSDA telah menangani setidaknya 15 pelaporan terkait dengan gangguan monyet dan ular. Sedangkan untuk awal tahun 2020, ia menyebut belum menerima laporan perihal temuan ular. Tidak bekerja sendiri, pihaknya juga bersinergi dengan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan petugas pemadam kebakaran.

 

"Jadi teman-teman itulah yang mungkin memiliki alat atau yang bisa membantu kami sebagai otoritas konservasi, yang bisa membantu kami untuk mengatasi masalah-masalah tersebut (ular)," jelasnya.

 

Pasca ditangkap, seluruh ular tersebut kata Anto akan dilepasliarkan dilokasi yang selama ini menjadi habitat. Beberapa lokasi pelepasliaran ular seperti taman nasional Bali barat (Jembrana), dan daerah Batukahu, Bedugul (Tabanan).

 

"Biasanya langsung kita lepasliarkan. Karena beberapa jenis ular yang ada di perumahan, ditempat masyarakat itu kebanyakan kan tidak dilindungi oleh Undang-Undang ataupun Peraturan Pemerintah. Alasannya ular-ular itu belum masuk dalam cakupan perlindungan kita, karena tidak dalam klasifikasi langka, dan masih banyak penyebarannya," ucapnya.

 

"Jadi kalau ada laporan, kita akan ambil, dan kita lepaskan ke habitat yang memang cocok buat mereka tergantung dari jenis," pungkas Kasubbag Tata Usaha Bali Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Prawono Meruanto.

 

 

 

 

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
LIVE
Radio Picture RRI Denpasar
00:00:00 / 00:00:00