• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi & Pariwisata

Perbankan Kaltara Siap Topang Ibu Kota Baru

6 December
20:17 2019
1 Votes (5)

KBRN, Tanjung Selor : Presiden Joko Widodo telah memutuskan pemindahan Ibu Kota Republik Indonesia ke Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hal itu disampaikan Kepala Negara dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Selasa (27/8/2019). 

Sebelum keputusan itu diumumkan, Pengurus Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Kaltimtara, Henny telah menyampaikan dukungan terhadap langkah Presiden memindahkan Ibu Kota. Perbanas pun mengajak semua pihak mendukung rencana itu. 

"Pemindahan Ibu Kota, saya rasa kalau sudah ditentukan, semua pihak harus siap dan mendukung keputusan pemerintah. Baik regulator, dunia usaha, maupun akademik mari kita dukung," kata Henny di Tanjung Selor, Jumat (6/12/2019). 

Meski penetapan Ibu Kota baru sudah melewati kajian Bappenas, namun tidak tertutup kemungkinan dalam prosesnya nanti akan ditemui rintangan. Menyikapi itu,  Henny memandang perlunya sinergitas seluruh pihak dalam menyukseskan langkah Presiden Jokowi. 

"Tentu dalam perjalanannya ada hal-hal yang perlu diperbaiki, ya kita perbaiki bersama. Kalau ini sudah ditetapkan pemerintah, ya, sudah dukung. Begitu saja," ungkapnya. 

"Kendalanya seperti apa, jangka waktunya seperti apa? Dan semuanya menjadi terukur dan terstruktur, itu yang paling penting," sambung Henny. 

Henny menyampaikan sejumlah evaluasi dan harapan sepanjang pemerintahan Joko Widodo dalam 5 tahun terakhir dan ke depan. Menurutnya, industri perbankan dalam 5 tahun hingga saat ini cenderung stabil, karena kondisi likuiditas mulai melonggar meskipun sempat mengetat. Namun ada tantangan dari sisi komoditas dan konsumer karena mengalami perlambatan.

Dengan kondisi tersebut, perbankan melakukan shifting bisnis. Jika sebelumnya perbankan fokus dikomoditas, saat ini harus beralih ke ritel, seperti patiwisata, kesehatan, e-commerce, dan lainnya.

"Jadi sekarang bagaimana untuk fokus beralih ke sektor yang sudah mengalami dampak dari perang dagang," kata Henny yang juga Kepala Cabang Bank Kaltimtara. 

Ia menyampaikan, tantangan yang dihadapi dalam 5 tahun ini adalah kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) dan likuiditas. NPL secara khusus terjadi pada sektor yang melambat seperti batu bara dan tekstil.

Dari sisi likuiditas, terjadi pengetatan yang membuat banyak bank mengalami perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit. Meski demikian, dua kuartal terakhir 2019 ini dipastikan sudah ada perbaikan khusus untuk penghimpunan dana pihak ketiga yang tumbuh di atas 7% yoy dari sebelumnya 6% yoy.

"Harapan kami memang nanti optimisme pada kabinet baru muncul, dan capital inflow masuk. Jadi, likuiditas melonggar serta pertumbuhan bisa balik di atas 10% lagi dari sisi kredit," ujarnya. 

Sementara itu, shifting disebut tetap menjadi strategi perbankan kedepan. Pasalnya, bank kesulitan menggarap pasar besar, karena penurunan permintaan, seperti rumah diatas Rp1 miliar, dan mobil dengan banderol diatas Rp200 juta-an.

Henny menambahkan, tantangan akan lebih pada bank yang tidak mempunyai jaringan luas. Adapun bank dengan jaringan luas dapat masuk segmen ritel ini lebih efektif, sebab harus dilakukan melalui kemitraaan baik dengan tekfin maupun komunitas e-commerce.

"Karena memang untuk masuk ke ultramikro atau FLPP [Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan] butuh jaringan luas. Ke depan, untuk bank besar environment-nya lebih baik memang bank yang menengah kecil yang harus berubah jadi digital atau menggandeng fintech," paparnya. 

Kalimantan timur sejatinya memiliki potensi industri perbankan yang mumpuni. Bahkan, Kalimantan Timur dikatakan paling unggul dibandingkan provinsi lain di Pulau Borneo.

Terutama terkait kegiatan penghimpunan dana pihak ketiga, Kalimantan Timur beradadi posisi delapan besar dibawah enam provinsi di Jawa, dan satu provinsi di Sumatera yaitu Sumatera Utara.

Pada Juni 2019, Industri perbankan di Kalimantan Timur berhasil menghimpun total DPK senilai Rp106,60 triliun. Capaian tersebut tumbuh 15,96% (yoy) dibandingkan Juni 2018 sebesar Rp91,93 triliun.

Sedangkan penyaluran kredit tumbuh 4,07% (yoy) dari Rp70,61 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp73,48 triliun pada Juni 2019. 

Hanya saja, industri perbankan tanah air dikatakan kurang menggelar ekspansi di Kalimantan Timur. Ini terlihat dari kantor cabang bank di Kalimantan Timur yang stagnan berjumlah 114 unit sejak tahun 2015. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
LIVE
Radio Picture RRI Denpasar
00:00:00 / 00:00:00