• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi & Pariwisata

Pitana: Bali Tetap Destinasi Pariwisata Budaya

13 November
11:46 2019
2 Votes (5)

KBRN, Denpasar : Wacana wisata ramah muslim di Bali dan Danau Toba menjadi topik pembahasan hangat ditengah masyarakat. Banyak kalangan baik Gubernur Bali, Wayan Koster, masyarakat, pelaku pariwisata hingga warga net menolak wacana tersebut.

 

Sayangnya tidak sedikit yang mengetahui kebenaran dari wacana wisata ramah muslim yang dilayangkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio.

 

Mantan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, Prof. I Gede Pitana mengaku sempat gerah, dan kecewa dengan wacana tersebut. Bahkan untuk merespon itu, ia secara langsung menemui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio, di Jakarta, Senin 11 November 2019.

 

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo, Pitana menyebut telah mempedebatkan banyak hal. Hasil dari pertemuan itu adalah Menparekraf dan Wamenparekraf membantah telah mengeluarkan wacana wisata ramah muslim untuk Bali serta Danau Toba.

 

Secara garis besar menteri dengan latar belakang penyiaran itu menginginkan pariwisata Indonesia termasuk Bali ramah sekaligus menerima seluruh segmentasi pasar. Kata ramah (friendly) berlaku bagi seluruh wisatawan mulai dari pasar Tiongkok, anak-anak, disabilitas, termasuk pelancong beragama Islam.

 

"Artinya saya setuju bahwa kita tidak memfokuskan pada satu segmen saja. Tetapi Bali dan juga daerah lainnya harus friendly kepada semua segmen pariwisata," ungkap Pitana kepada RRI di Denpasar, Rabu (13/11/2019).

 

Pitana menjabarkan, friendly tourism itu juga harus menggunakan landasan budaya yang berkembang dimasing-masing wilayah, dan peraturan perundang-undangan. Ia mencontohkan, wisatawan India yang berlibur dan meminta makanan vegetarian, maka destinasi bersangkutan siap memberikan.

 

"Bukan berarti kita atau Bali adalah destinasi vegetarian, bukan. Demikian juga kalau ada teman-teman yang anak-anak yang kesana kita siapkan kebutuhan anak-anak. Bukan berarti kita label Bali adalah destinasi anak-anak, tidak. Tetap Bali destinasi pariwisata budaya," ujarnya.

 

"Tetapi kita menyiapkan berbagai kebutuhan wisatawan, sehingga ramah dengan mereka. Ramah itu bahasa Inggrisnya friendly," lanjutnya.

 

Pitana lebih lanjut mengatakan, dalam diskusi itu telah menitipkan tiga poin penting kepada Menparekraf Wishnutama. Tiga poin itu meliputi pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan budaya Bali berbasis Agama Hindu, program peremajaan sekaligus peningkatan infrastruktur fisik di Bali, dan pembentukan mekanisme kepariwisataan agar memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

 

"Nah itulah yang akan membuat Bali menjadi destinasi pariwisata yang berkualitas, yang friendly untuk siapapun yang datang. Jadi tiga hal itu yang saya sampaikan, dan beliau sangat setuju. Hanya saja, mungkin untuk butir yang kedua, beliau harus koordinasi dulu dengan teman-teman sesama menteri, dengan Menteri PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), dan Menteri Perhubungan," tandas Prof. Pitana.

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
LIVE
Radio Picture RRI Denpasar
00:00:00 / 00:00:00