• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi & Pariwisata

"Wisata Ramah Muslim", Cok Ace: Apa Selama Ini Kita Tidak Ramah?

11 November
16:49 2019
0 Votes (0)

KBRN, Denpasar : Terjadi keriuhan ditengah masyarakat Bali, pasca munculnya wacana yang dilontarkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio. Mantan praktisi media penyiaran itu kembali mengangkat wacana pengembangan wisata ramah muslim di Bali, dan Danau Toba.

 

Padahal sebelumnya, Menteri Pariwisata era kabinet Kerja, Arief Yahya sudah menolak konsep "wisata halal" diberlakukan di Bali. Alasannya Pulau Dewata sebagai destinasi bernafaskan seni, dan budaya sudah memiliki branding kuat di dunia.

 

Menyikapi itu, Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyebut belum mengetahui secara utuh konsep wisata ramah muslim yang ditawarkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

 

"Ya saya tidak tahu arah pikiran beliau (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif). Apa yang dimaksud wisata ramah muslim. Kalau Bali dari dulu kan memang begini dari dulu. Artinya kalau memang, saya tidak tahu konsepnya, saya tidak sempat bertemu sih. Konsep pengembangan pariwisata Indonesia yang beliau ingin kembangkan seperti apa?," ungkapnya ketika dikonfirmasi RRI di Denpasar, Senin (11/11/2019).

 

Mantan Bupati Gianyar ini berpandangan, pariwisata Bali idealnya dikembangkan sesuai karakteristik wilayah. Pariwisata menurutnya adalah daya tarik yang muncul dari kekayaan ragam daerah.

 

"Jadi kalau memang keberagaman itu menimbulkan pergerakan, satu wisatawan dari satu tempat ke tempat lain, terus untuk apa di Bali diseragamkan. Kan biar Bali dengan keberagamannya ini, justru itu yang harus dipertahankan, justru itu yang harus ditonjolkan, dirawat, diperbaiki, kan begitu," tegasnya.  

 

Secara pribadi ia menilai, wisata ramah muslim memiliki konteks sejenis dengan wisata halal. Hanya saja Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio mengemasnya dengan bahasa universal yang diharapkan diterima seluruh lapisan masyarakat. Namun ia mempertanyakan, indikator wisata ramah muslim yang bisa diimplementasikan di Bali.

 

"Kalau itu sebuah konsep, turunannya apa akhirnya? Apa nanti akan disiapkan restoran harus memasang tanda halal, apa bagaimana? Saya tidak tahu. Yang saya ingin tahu turunannya bagaimana? Itu kan masih tataran konsep, yang ramah muslim. Apa selama ini kita tidak ramah dengan muslim atau yang lain-lainnya?," ujar pria yang akrab disapa Cok Ace itu.

 

"Kita kan sudah dari dulu berinteraksi, bukan baru zaman pariwisata, tetapi dari zaman kerajaan pun orang Bali sudah berinteraksi sama masyarakat muslim. Dan tidak ada masalah," lanjutnya.

 

Kalaupun wacana wisata ramah muslim ditujukan untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan timur tengah ke Bali, Cok Ace dengan tegas menyebut itu strategi yang salah. Ia beranggapan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif seharusnya memperkuat branding wisata halal di Nusa Tenggara Barat (NTB). Penguatan posisi tawar NTB sebagai destinasi halal dianggap sejalan dengan pengembangan daerah diluar Bali sebagai tujuan wisata.

 

"Kuncinya dalam mengembangkan pariwisata, harus ada diferensiasi, positioning, dan branding. Positioning apa? Apa kita hanya mau mengambil timur tengah? Apa kita tidak melihat pariwisata dunia?," tandas Cok Ace.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
LIVE
Radio Picture RRI Denpasar
00:00:00 / 00:00:00