• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Laka Lantas Picu Kemiskinan, Ini Alasannya

19 September
13:49 2019
1 Votes (5)

KBRN, Sanur : Tingkat kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Pulau Dewata sejauh ini relatif tinggi. Data Direktorat Lalu Lintas Polda Bali menunjukkan, angka laka lantas di Pulau Dewata hingga semester I tahun 2019 mencapai 1.900 kasus. Sedangkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak 211 jiwa.

 

Kepala Sub Direktorat Keamanan dan Keselamatan Ditlantas Polda Bali, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Nyoman Sukasena mengatakan, secara kuantitas dan kualitas terjadi kenaikan kasus laka lantas dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Kasus kecelakaan lalu lintas di Pulau Surga masih didominasi pengendara roda dua atau sebesar 83%.

 

"Kalau kita anatomi, rata-rata 15 sampai 50 tahun (korban kecelakaan lalu lintas). Jadi disana ada usia produktif, ada usia-usia generasi muda. Kita anatomikan pelajar, sama mahasiswa. Terus yang kedua kita anatomikan umur 45 sampai 50 tahun. Hampir 30%an korban kecelakaan lalu lintas merupakan usia produktif," ungkapnya kepada wartawan disela-sela Peluncuran dan Sosialisasi Program Promotif Preventif BPJS Ketenagakerjaan tahun 2019, di Pantai Mertasari, Sanur, Kamis (19/9/2019).

 

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Gede Wayan Samsi Gunarta pada kesempatan yang sama mengaku prihatin dengan tingginya angka laka lantas. Ia tak memungkiri, beberapa faktor menjadi pemicu kasus laka lantas, diantaranya kesadaran dan gaya berkendara serta dukungan infrastruktur.

 

Terkait infrastruktur, Pemerintah Provinsi Bali dipastikan komit dalam penyediaan sarana prasarana jalan yang memadai, aman, dan nyaman bagi pengendara. Berbagai langkah yang dilakukan diharapkan mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas sebesar 50% hingga tahun 2030.

 

Samsi Gunarta tak memungkiri, kasus kecelakaan lalu lintas memicu sejumlah dampak negatif. Salah satunya adalah kemiskinan bagi korban, dan keluarga. Hal itu terjadi lantaran korban laka lantas selama ini mayoritas merupakan kepala keluarga.

 

"Makanya kita harus bekerja keras untuk memastikan hal ini, baik dari sisi enjinering, edukasi, supaya kita bisa memperbaiki situasi. Karena kecelakaan ini menyebabkan banyak hal. Terutama signifikan sekali pengaruhnya terhadap ekonomi," ujarnya.

 

Menyikapi tingginya angka laka lantas di Bali, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan melaksanakan Peluncuran dan Sosialisasi Program Promotif Preventif tahun 2019. Dalam kegiatan ini, BPJS Ketenagakerjaan yang menggandeng sejumlah komunitas sepeda motor tersebut membagikan helm, sekaligus kampanye keamanan serta keselamatan berkendara.

 

Asisten Deputi Wilayah Bidang Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Bali, Nusa Tenggara, dan Papua (Banuspa), Sang Made Sumadi A. mengakui, kegiatan tersebut menjadi respon atas tingginya angka laka lantas di Bali. Terlebih korban kecelakaan lalu lintas sejauh ini didominasi masyarakat pekerja berusia produktif.

 

"Kecelakaan kerja khususnya lalu lintas kan menjadi sebuah fenomena yang dari tahun ke tahun selalu kita mendapat angka yang menunjukkan bahwa kecelakan lalu lintas yang menjadi kecelakaan yang tertinggi. Saya yakin dengan kesempatan ada edukasi semacam ini, ada preventif, promotif, kemudian pencerahan kepada masyarakat terhadap pentingnya terhadap perlindungan diri, sehingga terhindar dari risiko yang lebih besar ketika mengalami kecelakaan kerja," ungkapnya.

 

"Program ini sebenarnya diluar program core bisnis kita. Tetapi ini bentuk kepedulian. Dan BPJS Ketenagakerjaan selalu ingin meningkatkan manfaat, tentu ini adalah salah satunya. Bahwa kami sangat peduli, BPJS Ketenagakerjaan sangat peduli melihat angka kecelakaan kerja khususnya dilalu lintas ini sedemikian tinggi. Karena ketika pekerja mengalami kecelakaan kerja, berdampak yang sangat luas, tidak saja dirinya sendiri, bahkan keluarganya, juga kinerja perusahaan akan terganggu," lanjutnya.

 

Sumadi menjabarkan, klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) hingga Agustus 2019 relatif tinggi. Di wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Papua, kasus JKK mencapai 2.100, dengan besaran klaim Rp23,6 miliar. Dari jumlah itu, 40% atau 840 kasus merupakan kecelakaan lalu lintas.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
LIVE
Radio Picture RRI Denpasar
00:00:00 / 00:00:00