• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pendidikan

Pemerintah Diminta Tidak Anaktirikan Sekolah Swasta 

17 July
20:02 2019
1 Votes (5)

KBRN, Denpasar : Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun pelajaran 2019/2020 telah dilaksanakan sejak Senin (15/7/2019). Tidak sebatas mencegah perpeloncoan, MPLS kali ini juga menekankan pentingnya pendidikan karakter, kedisiplinan, dan komitmen menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, peserta didik baru juga mendapatkan pengetahuan seputar tertib berlalu lintas, bahaya penggunaan narkotika dan kiat-kiat kesehatan. 

Seperti halnya di SMP PGRI 1 Denpasar yang sengaja mendatangkan pembicara dari Polda Bali, dan Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Ketua Panitia MPLS SMP PGRI 1 Denpasar, Pande Kadek Asmari Ningsih menjelaskan, sebanyak 228 peserta didik baru mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah tahun ini. Materi yang diberikan diakui sebagai respon atas berbagai tantangan generasi muda di era milenial. 

"Selain pengenalan lingkungan dan pendidikan berkarakter, kita juga memberikan materi tentang keselamatan berlalu lintas yang diberikan pihak kepolisian, dan dampak penggunaan gawai oleh pemateri dari Dinas Kesehatan," jelasnya kepada wartawan disela-sela penutupan MPLS di sekolah setempat, Rabu (17/7/2019). 

Sementara Kepala SMP PGRI 1 Denpasar, I Nengah Sukama lebih menyoroti tentang proses penerimaan peserta didik baru (PPDB). PPDB tahun pelajaran 2019/2020 dengan sistem zonasi tak dipungkiri menimbulkan berbagai polemik ditengah masyarakat. 

Belum lagi carut marut yang terjadi, berimbas negatif terhadap tingkat penerimaan peserta didik baru di sekolah swasta. Sebagian besar kuantitas penerimaan siswa baru di sekolah swasta di Kota Denpasar mengalami penurunan hingga 50% pada tahun pelajaran ini. Kondisi tersebut tentunya menjadi pekerjaan rumah yang wajib disikapi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

"Jadi untuk penerimaan peserta didik baru khususnya di SMP PGRI 1 Denpasar, sudah tentunya mengacu kepada aturan pemerintah baik dari pusat maupun daerah. Dan kita persekolahan yang ada, khususnya buat di SMP PGRI 1 Denpasar, ya kita mohon, karena sekolah swasta juga memberikan kontribusi positif buat kemajuan di dunia pendidikan. Sudah tentunya janganlah dianaktirikan," tegasnya.

Sukama menegaskan, sekolah swasta memiliki andil yang sama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, sekolah swasta juga mempunyai tingkat ketaatan yang tinggi, baik dari sisi hukum, aturan, dan azas. Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah mengedepankan rasa keadilan dalam proses PPDB, baik di sekolah negeri maupun swasta. 

"Ketika itu dilaksanakan, kami sangat berterima kasih sekali. Namun jangan sampai ada titip-titipanlah. Nah itu harapan kami kedepan. Mudah-mudahan, kami sangat percaya, dan yakin dengan hasil kemarin yang dimana setelah diumumkan pastilah menjadikan kajian atau menjadi evaluasi buat kita bersama. Mudah-mudahan kedepan lebih dimantapkan lagi, sehingga tidak ada ricuh di masyarakat, di kita-kita khususnya di dunia pendidikan. Karena kita harus memberikan contoh kepada generasi kita semuanya," ujarnya. 

Selain memiliki peran, dan andil yang sama, sekolah swasta juga disebut memberlakukan kebijakan biaya yang tidak terlalu membebankan orang tua siswa. Khusus di SMP PGRI 1 Denpasar diakui membijaksanai besaran biaya yang hampir sama dengan sekolah negeri. 

"Namun bagaimana mengupayakan, yaitu biar anak-anak khususnya orang tua, pendidikan itu bisa terjangkaulah. Sehingga kita terapkan yaitu terutama melihat keberadaan anak-anak yang tidak mampu. Apalagi pemerintah sudah memberikan dukungan berupa bantuan dana operasional buat sekolah. Disitu kita bisa betul-betul perhatikan anak-anak yang kurang mampu," ungkapnya. 

Khusus siswa dari keluarga pra-sejahtera yang bersekolah di SMP PGRI 1 Denpasar mendapatkan subsidi dengan besaran sesuai ketentuan dana bantuan operasional sekolah (BOS) 

"Sesuai dengan aturan, BOS itu kan ada aturan yang harus kita taati, harus kita laksanakan dengan baik. Karena yang namanya anak-anak masuk dari segi latar belakang kan tidak sama semua, pastilah beda dari segi kemampuan, kemudian bagaimana suasana lingkungan sosial, budaya, tradisi mereka masing-masing pasti beda. Jadi dengan kondisi itu, apa yang kira-kira kita bisa bantu buat anak-anak terutama yang tidak mampu," pungkas Nengah Sukama.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
LIVE
Radio Picture RRI Denpasar
00:00:00 / 00:00:00