• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Iming-iming Mobil dan Libatkan Artis Jadi Modus Investasi Bodong MeMiles

17 January
07:22 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Logikanya memang tak masuk akal, taktala seorang artis yang bernama Marcello Tahitoe disebut baru menjadi member aplikasi online MeMiles sejak Agustus tahun lalu tetapi sudah menikmati mobil mewah jenis BMW.

Logika lain yang tidak masuk akal juga terjadi tatkala sejumlah orang yang mengaku penerima manfaat memamerkan manfaat yang mereka peroleh. Hanya dengan menjadi anggota beberapa saat sudah menikmati sepeda motor. Hampir semuanya adalah sepeda motor jenis baru yang diidamkan banyak orang.

Semua kejanggalan itu dibongkar oleh Polda Jawa Timur beberapa waktu lalu, dan semakin terkuak kebobrokannya. Bahkan pihak kepolisian meyebut ada kaitan keluarga Cendana dalam kasus aplikasi online MeMiles tersebut.

Aplikasi MeMiles memang luar biasa, baru delapan bulan sudah mampu menggaet dana Rp 750 miliar. Bagusnya aparat kepolisian langsung bertindak cepat. Sebenarnya, sejak tahun lalu ada indikasi keanehan dengan dugaan investasi ilegal. Namun saat itu, dibantah oleh tim mereka Eva Louisa dan Suhanda.

Anehnya, mereka menyebut bukan perusahaan investasi, tapi perusahaan advertising. Ini jelas aneh, perusahaan advertising tapi ada member dan bonus berlimpah.

Yang juga aneh adalah masyarakat membernya. Mereka seolah tidak merasa aneh tatkala ada pihak menawarkan bonus berlimpah dengan pengeluaran yang minimal. Lebih aneh juga ternyata para member itu bukan hanya orang biasa, akan tetapi juga orang berpendidikan hingga artis terkenal.

Logika manusia memang menjadi aneh tatkala sudah ada iming-iming uang. Ingin kaya Lebih cepat tanpa kerja keras jelas aneh. Tapi ini anehnya orang Indonesia. Tidak kapok-kapok juga terlibat hal semacam itu, program umrah first tavel misalnya, mana mungkin dapat umroh hanya Rp 14 juta.

Ongkos pesawat PP ke Arab Saudi saja tidak cukup, tapi tetap saja orang beramai-ramai termakan janji hingga tertipu. Inilah anehnya orang Indonesia. Tidak mungkin mengharapkan aparat kepolisian dan instansi berwenang memantau seluruh keanehan yang ada, harusnya masyarakat memiliki Self-censorship sendiri. 

Penulis  :  Widhie Kurniawan, Pimred Pusat Pemberitaan 

Tentang Penulis

Mosita Dwi Septiasputri

Mositadwis@gmail.com

Berita Terpopuler

Berita Terfavorit

00:00:00 / 00:00:00