• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

74 Tahun Indonesia Merdeka

17 August
20:38 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Bila diibaratkan jalannya seorang anak manusia di muka bumi, maka usia Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah terbilang tua. Sudah 74 tahun pad hari ini.

Namun bila dibandingkan usia negara lain, semisal Amerika Serikat yang sudah 243 tahun, maka usia 74 masih terbilang muda. Usia ini dapat dibandingkan pula dengan sejarah perjalanan bangsa-bangsa di Nusantara sebelum VOC dan Belanda masuk ke Indonesia.

Bahwa sesungguhnya, Indonesia terbentuk karena penjajahan Belanda, adalah sebuah fakta.

Dulu, negeri ini adalah wilayah Nusantara dengan berbagai kerajaan, kesultanan, dan beragam pemerintahan Nusantara saat itu, seperti Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Padjajaran, Samudera Pasai, Klungkung, Tidore dan Ternate. Semua ada masa dan ada tantangannya.

Kini semuanya melebur menjadi Republik Indonesia.Kita tidak akan melupakan sejarah itu, tetapi secara faktual,  Indonesia sebagai satu bangsa, kini dihadapkan pada tantangan lebih kompleks.

Globalisasi dan Digitalisasi membuat sekat-sekat antar bangsa menjadi semakin tidak berarti. Secara fisik sekat antar negara itu ada, akan tetapi dalam kondisi lain, persebaran ideologi, budaya, ekonomi dan bahkan politik sudah tembus sampai rumah masing-masing.

Bung Karno, bersama para Founding father lain, sesungguhnya telah meletakkan dasar kenegaraan yang dinamis namun kukuh, dengan lima prinsip. Ketuhanan, Internasionalisme, Kebangsaan, Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial.  

Globalisasi dan digitalisasi memang bergerak cepat Sedangkan prinsip tersebut selalu menjadi pijakan bangsa Indonesia. Namun demikian, prinsip tersebut kosong dan tidak berarti bila manusia di dalamnya tidak memiliki pemahaman dan kecakapan.  

Seorang ulama besar dari Mesir menyebut kata Al Fahmu atau Paham sebagai langkah awal melakukan sesuatu. Karena itu, investasi terbesar untuk anak bangsa negeri ini adalah memberi pemahaman secara komprehensif terhadap prinsip bernegara.

Dalam istilah Sosiologi, mengutip Soerjono Soekanto, ada proses internalisasi kuat dalam sebuah budaya untuk membangun Karakter bangsa.  

Karena itu, tatkala Presiden Joko widodo menginginkan adanya Sumberdaya Manusia Unggul, maka perlu gerakan massif melakukan internalisasi prinsip Lima Sila, hinggi terbentuk karakter warga bangsa hingga terwujudnya SDM yang kuat.  

Ini investasi manusia dan memerlukan jangka panjang. Bukan sekedar mengajarkan, tapi mendidik. Manusia Indonesia dengan Karakter Kuat akan membentuk bangsa yang hebat. Ini  kunci tewujudnya SDM unggul Indonesia Maju.
 

Dirgahayu 74 tahun Republik Indonesia
 
  

Tentang Penulis

Widhie Kurniawan

Kapuspem RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00