• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Kanopi Desak Pemprov Bengkulu Serius Usut Penyebab Kematian Sejumlah Penyu

4 December
18:59 2019
0 Votes (0)

KBRN, Bengkulu : Adanya temuan sebanyak 9 ekor penyu mati dalam 2 bulan terakhir, di sekitar area pembuangan limbah air bahang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara Teluk Sepang, Bengkulu, pihak Kanopi mendesak Gubernur Bengkulu untuk mengusut tuntas kematian biota lautdimaksud, karena hingga kini belum diketahui penyebabnya.

“Kita dari Kanopi mendesak Gubernur agar memerintahkan penghentian seluruh aktivitas PLTU yang dilaksanakan oleh PT Tenaga Listrik Bengkulu(TLB), hingga penyebab kematian biota lauttersebut diketahui secara pasti.Kemudian juga agar Gubernur, membentuk tim independen terdiri dari pemerintah, akademisi, dan warga dan kelompok masyarakat sipil untuk mengungkap penyebab kematian biota laut di sekitar PLTU batu bara Teluk Sepang,” ungkap Juru kampanye Energi Kanopi Bengkulu Olan Sahayu, dalam press rilisnya kepada RRI Bengkulu.

Menurutnya, hingga kini belum diketahui penyebab pasti kematian penyu dan ikan, meski tim dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK)Provinsi Bengkulu sebelumnya sudah turun ke lapangan, dan mengukur suhu serta pH air limbah bahang, namun tidak ada jawaban pasti terkait penyebab kematian salah satu hewan yang dilindungi dimaksud.

“Diketahui, seluruh jenis penyu merupakan fauna yang dilindungi berdasarkan lampiran Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Men-LHK) nomorP.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, perubahan kedua atas PeraturanMen-LHK nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi, sampai sekarang belum diketahui penyebab kematiannya. Apalagi dari analisis kita atas dokumen Adendum Andal dan RKL-RPL PLTU batu bara Teluk Sepang 2 x 100 Megawatt, tidak ditemukan penjelasan tentang biota laut, yaitu penyu pada rona lingkungan hidup. Hal yang dibahas dalam dokumen tersebut ditelaah hanya plankton, nekton (ikan dan udang) dan terumbu karang (Dok. Adendum Andal bab II hal 32-36).Artinya, AMdal proyek ini diduga telah gagal mengidentifikasi entitas ekologis penting seperti penyu yang merupakan salah satu fauna yang dilindungi,” katanya, Rabu, (4/12/2019).

Lebih jauh Olan menceritakan, pada 10 November 2019 lalu awalnya ditemukan dua ekor penyu dan ikan mati. Bahkan di lokasi yang sama, mulai dari lida-lida, sarden, cumi-cumi, dan belanak, juga ditemukan mati.

Sedangkan penemuan ikan tersebut mati, sekitar 30 meter dari saluran pembuangan limbah air bahang PLTU, Teluk Sepang.

Penemuan itu terus bertambah, pada 18 November 2019 lalu kembali ditemukan penyu dan ikan mati di Pantai Teluk Sepang, tidak jauh dari area pembuangan limbah air bahang PLTU batu bara. Dari keterangan nelayan dan warga Kelurahan Teluk Sepang, kejadian penyu mati dalam jumlah banyak dan waktu yang berdekatanitu, belum pernah terjadi,” terangnya.

Selain itu lanjutnya, penemuan biota laut mati tersebut masih terus berlanjut,danpada 20 November 2019, sejumlah warga mengumpulkan ratusan ikan mati yang terdampar di tepi Pantai Teluk Sepang, atau berjarak 50 hingga 100 meter dari mulut saluran limbah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara Teluk Sepang.

Lalu, terbaru pada hari ini 04 Desember 2019, petugas BKSDA menemukan dan mengangkut empat ekor penyu tetap di wilayah yang sama.

Penyu mati tersebut ditemukan di sekitar 100 meter dari saluran pembuangan limbah air bahang PLTU batu bara Teluk Sepang. Bangkai penyu sudah dibawa ke kantor Resort TWA Pantai Panjang Pulau Baai Bengkulu untuk selanjutnya diotopsi,” tutupnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00