• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Kerjasama PMI Dengan Palang Merah Jepang Berakhir, Pemprov Bengkulu Diminta Melanjutkan

3 December
20:09 2019
0 Votes (0)

KBRN, Bengkulu : Meski program kerjasama Palang Merah Indonesia (PMI)dengan Palang Merah Jepang dalam pengurangan risiko terpadu berbasis masyarakat (pertama) telah berakhir, namun diharapkan bisa dilanjutkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu.

Bahkan jika perlu bisa dikembangkan lagi, karena letak wilayah Provinsi Bengkulu yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, diketahui sangat rawan terjadinya bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Belum lagi, program kerjasama PMI Bengkulu dengan Palang Merah Jepang yang telah berjalan sejak April 2016 hingga Februari 2020 mendatang, baru menjangkau 9 desa di 2 wilayah kabupaten tepatnya Kabupaten Kaur dan Seluma serta Kota Bengkulu, dalam Provinsi Bengkulu.

“Kedepan tidak hanya 9 desa saja yangdidampingi melalui program PMI, tapidesa lainnya yang rawan bencana dalamwilayah Provinsi Bengkulu bisa ikut didampingi secara maksimal. Oleh karena itu perlu dikembangkan lagi, sehingga dapat menciptakan sisi ekonomi untuk masyarakat," ungkap Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Pusat, Letjen TNI (Purn) Sumarsono SH,dalam penutupan program Integrated Community Base Risk And Reduction' (ICBRRI), kerjasama PMI dengan Palang Merah Jepang, di Gedung Daerah Balai Raya Semarak Bengkulu.

Dijelaskan Sumarsono, sasaran penting dalam penanggulangan bencanaini, disamping tanggap bencana juga kearifan lokal yang harus terus dipelihara. Seperti memulihkan kembali tanaman pinggir luat dengan penanaman pohon mangrove dan lain sebagainya, serta peningkatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).  

Untuk itu, dalam pendampingan tidak hanya bisa dilakukan oleh PMI, tapi juga harus mendapatkan campur tangan pemerintah.

“Apapun yang menjadi program tanggap bencana alam itu, harus bisa disalurkan ke masyarakat. Saya apresiasi keberhasilan PMI bersama relawannya yang berhasil membina masyarakat, sehingga telah lahir pelaku UMKM di daerah rawan bencana,” terangnya, Senin, (2/12/2019) malam.

Senada dengan itu, Kepala Perwakilan Palang Merah Jepang Untuk Indonesia Awaludin mengatakan, ditunjuknya Bengkulu dalam pelaksanaan program kerjasama selama 4 tahun terakhir ini, karena wilayahnya memang rawan terjadinya bencana. Untuk itu dengan berakhirnya kerjasama yang masih ada waktu hingga Februari tahun depan, pihaknya tinggal melakukan survey dan evaluasi lapangan.

“Berhasil atau tidak program kerjasama ini baru akan diketahui setelah keluarnya hasil survey dan evaluasi pada Februari 2020. Tapi pandangan saya, seluruh kegiatan telah berhasil kita laksanakan bersama PMI dengan para relawan Sibatnya. Bahkan tingkat partisipasi masyarakat cukup luar biasa di Bengkulu ini, meski ada kendala tapi bukan sebagai permasalahan. Diharapkan program ini dilanjutkan oleh Pemerintah Daerah bersama PMI, sebab sangat penting bagi masyarakat, terutama meningkatkan kesadaran tentang mengurangi risiko dampak bencana,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris PMI Provinsi Bengkulu, Joni Saputradalam pemaparannya menjelaskan, dari 96 desa dalam wilayah pesisir Provinsi Bengkulu rawan terjadinya gampa dan tsunami, baru43 desa sudah dilakukan pendampingan PMI, serta 30 desa didampingi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Sedangkan ada 9 desa yang telah maksimal didampingi melalui programsosialisasi bencana alam hingga memberikan pelatihan usaha mandiri kepada warga, hingga bisa mewujudkan desa tangguh dari bencana alam.

"Metode ini perlu kami lakukan, agar memahami bencana alamdan juga bisa memberikan nilai ekonomi untuk masyarakat," tutur Joni.

Dibagian lain, Staf Ahli Gubernur Bengkulu, Muslih Z atas nama Pemprov memberikan apresiasi atas program PMI bersama Palang Merah Jepang dalam pencegahaan bencana alam dan hasilnya ini akan ditindaklanjutikedepan. Apalagi terkait menciptakan produk unggulanyang tengah fokus dijalankan sat ini di tengah masyarakat.

Bengkulu memang rawan terjadi bencana alam. Terlebih jumlah penduduk dalam setiap tahunnya terus bertumbuh,tentu akan menjadi fokus pemerintah, ketika terjadi bencana alam, masyarakat bisa tanggap dalam bencana,khususnya untuk melakukan penyelamatan. Artinya sadar bencana alam itu lebih penting, daripada melakukan penanggulangan pasca bencana alam," tutupnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00