• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Karhutla di Bengkulu Terpantau Meningkat, di Pulau Enggano Terbesar

18 September
13:53 2019
1 Votes (2)

KBRN, Bengkulu : Dalam musim kemarau ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Bengkulu terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu yang diperoleh dari pantauan satelit dalam dua bulan terakhir, tercatat sebanyak 117 titik hotspot tersebar di wilayah kabupaten dan kota.

Dengan rincian selama Agustus 2019 lalu, tercatat 52 titik hotspot. Sedangkan dari tanggal 1 sampai 15 September 2019, sudah mencapai 65 titik hotspot.

“Dari 65 titik hotspot itu, terpantau terbanyak di Kabupaten Kaur sebanyak 16 titik. Lalu Rejang Lebong sebanyak 15 titik, disusul Bengkulu Utara sebanyak 10 titik, Bengkulu Selatan sebanyak 8 titik, Bengkulu Tengah 5 titik, Mukomuko 4 titik, Lebong dan Seluma masing-masing 3 titik dan Kepahiang 1 titik. Sehingga jumlahnya 65 titik hotspot, meningkat dari jumlah bulan sebelumnya,” ungkap Kepala DLHK Provinsi Bengkulu Sorjum Ahyan, kepada sejumlah wartawan di Bengkulu.

Dikatakan, dari berbagai titik hotspot tersebut, relatif besar luas lahan yang terbakar terjadi di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Bukit Kandis Kabupaten Bengkulu Tengah. Apalagi karhutla seperti yang terjadi di Pulau Enggano yang mencapai 30 hektar lebih itu bukan terjadi sekali, tetapi sudah beberapa kali ini, pihak terkait termasuk kita (DLHK,red) harus menurunkan tim kelapangan untuk penanggulangan secara bersama-sama.

“Hotspot terbesar yang terjadi di dua wilayah itu. Sehingga apabila tidak dilakukan upaya antisipasi secara dini dengan menurunkan tim ke lapangan bekerjasama dengan masyarakat setempat, dikawatirkan karhutla masih akan terus terjadi. Belum lagi musim kemarau ini diprediksi masih akan berlangsung lama,” ujarnya, Rabu, (18/9/2019).

Lebih jauh ia menambahkan, dengan banyaknya titik hotspot yang mayoritas terjadi pada lahan milik masyarakat, namun ada juga kawasan hutan itu, untuk kualitas udara memang kecendrungan ada peningkatan kandungan CO2-nya, yang diperkirakan salah satu penyebabnya karena karhutla.

“Meski kualitas udara sudah ada peningkatan kandungan CO2-nya, tetapi masih dalam kategori belum membahayakan bagi masyarakat. Untuk itu kita menghimbau, tidak saja masyarakat yang ingin membuka lahan dan juga pihak perusahaan yang memiliki lahan, agar tidak sampai membakar lahannya, sehingga karhutla di wilayah Bengkulu tidak seperti daerah lain yang diketahui sudah sangat mengkawatirkan,” tukas Sorjum.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00