• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

FPM Bengkulu Lahirkan 5 Tuntutan Cegah Perkawinan Usia Anak

24 August
21:12 2019
0 Votes (0)

KBRN, Bengkulu : Dalam rangka Hari Pemuda Internasional atau International Youth Day yang rutin diperingati setiap tanggal 12 Agustus di seluruh dunia, Forum Perempuan Muda (FPM) Provinsi Bengkulu menggelar dialog interaktif antara pemuda dengan pemangku kebijakan, pada Sabtu (24/8/2019) bertempat di bekas Waterboom Bengkulu Indah Mall.

Dialog yang juga melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-Remaja) se-Kota Bengkulu, Komunitas Seni, Forum Anak Bengkulu, Bengkulu Youth Forum, membedah Peraturan Gubernur Nomor 33 tahun 2018 tentang Pencegahan Perkawinan Usia Anak, dengan bertajuk Transformasi Pendidikan yang memiliki arti pendidikan tak harus melalui sekolah atau ruang kelas, karena pengetahuan dan keterampilan bisa didapatkan dari mana saja tanpa diskriminasi.

Merujuk penelitian Cahaya Perempuan Women Crisis Center (WCC) pada 2017, jumlah perempuan menikah di bawah usia 16 tahun mencapai 16,17 persen dan perempuan hamil di bawah usia itu sebanyak 9,89 persen. Sementara perempuan yang menikah rentang usia 17-18 tahun berjumlah 23,04 persen dan perempuan hamil usia itu sebanyak 19,64 persen.

Ketua FPM Provinsi Bengkulu, Lica Veronica mengatakan, gerakan bersama antar pihak ini bertujuan menyelesaikan kasus perkawinan anak yang saat ini masih marak terjadi di Bengkulu. Apalagi Undang-Undang Perlindungan Anak menyebutkan, bahwa anak-anak adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Sehingga siapa pun yang masih berusia di bawah 18 tahun, termasuk kategori anak-anak.

Di Bengkulu sendiri, faktor utama penyebab perkawinan anak adalah kemiskinan. Mengingat masyarakat menganggap bahwa menikah merupakan jalan pintas untuk keluar dari persoalan finansial. Selain itu, faktor rendahnya tingkat pendidikan orang tua juga berpengaruh terhadap tingginya angka perkawinan anak.

"Perempuan selalu didorong untuk menikah lebih cepat ketimbang laki-laki, dan mereka (perempuan, red) tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan ada anak perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan akibat perkosaan, kekerasan dalam pacaran dan lainnya, maka masyarakat serta orang tua cenderung menikahkannya dengan pelaku kekerasan tersebut," ujar Lica. 

Selain itu diakui, kondisi demikian dapat menjadi ancaman buruk terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) unggul di Bengkulu. Oleh karena itu, pendidikan transformasi merujuk kepada perubahan mendasar pola pendidikan dan pendekatan remaja yang mencerdaskan, kreatif, dan berkelanjutan. 

"Konsep itu juga mengubah kesadaran kritis pemuda terhadap Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR)," terang dia. 

Melalui perayaan Hari Pemuda Internasional tahun ini, FPM bersama pihak terkait melayangkan lima poin tuntutan kepada Lembaga Adat dan Pemerintah Daerah di Bengkulu, berupa, pertama, masyarakat perlu kemudahan akses untuk mendapatkan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif di sekolah serta luar, agar mampu bertanggungjawab dalam berprilaku seksual dan terhindar dari kekerasan seksual.

Lalu kedua, menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual yang bersahabat, agar nantinya nyaman dan aman dalam menceritakan persoalan kesehatan seksual dan reproduksi terutama korban Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dari segi medis dan psikologis.

Kemudian ketiga, menjamin keberlanjutan pendidikan bagi perempuan muda korban KTD, serta keempat memberikan pendidikan keterampilan hidup bagi perempuan muda yang putus sekolah, terutama korban KTD.

Selanjutnya kelima, memenuhi hak kebenaran, keadilan hukum, dan pemulihan korban kekerasan seksual terutama yang mengalami KTD.

"Ke depan, kami tak ingin berhenti sampai di sini. Kami berkomitmen akan selalu kritis melihat setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah, guna memastikan kebijakan yang dibuat itu berpihak kepada hak-hak perempuan muda dan anak. Kami ingin memberikan banyak dampak positif yang lebih luas untuk menciptakan SDM unggul di masa depan," tutupnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00