• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Sidang Replik di PTUN, Warga dan Mahasiswa Bengkulu Terus Suarakan Tolak PLTU Teluk Sepang

21 August
17:15 2019
0 Votes (0)

KBRN, Bengkulu : Putusan sela yang dimenangkan oleh rakyat, telah memunculkan harapan baru dalam perjuangan menyelamatkan lingkungan.

Dari Sidang dilanjutkan Rabu, (21/8/2019) di PTUN Bengkulu, dengan agenda jawaban atas sanggahan gubernur dan lembaga OSS (para tergugat) atas gugatan yang telah disampaikan penggugat dalam hal ini warga.

Dimana sanggahan para tergugat menyatakan, bahwa gugatan salah alamat, tidak tepat sasaran dan melewati batas waktu. Ditambah lagi pernyataan tergugat dalam hal ini Gubernur, bahwa Jalaluddin, Harianto serta Abdul Rasis dinyatakan tidak memenuhi kriteria sebagai penggugat. Bahkan pernyataan melalui kuasa hukum tergugat, sangat tidak tepat.

Saman Lating, S.H selaku Koordinator Tim Advokasi Langit Biru (T(a)LB) menyatakan, gubernur dinilai gagal memahami substansi dari gugatan, atas izin lingkungan yang diberikan kepada PT TLB selaku pemilik dan pelaksana PLTU batubara di Teluk Sepang.

“Warga penggugat tidak pernah meminta ganti rugi, akan tetapi meminta kepada Gubernur Bengkulu dan Lembaga OSS untuk mencabut dan membatalkan izin lingkungan yang telah diberikan kepada PT TLB,” kata Lating.

Disamping itu, berdasarkan hasil laporan penyimpangan dokumen ANDAL PLTU Batubara Teluk Sepang, Olan Sahayu selaku Juru Kampanye Energi Kanopi Bengkulu menjelaskan, PLTU batubara telah menggusur tanam tumbuh petani, diduga klaim persetujuan warga Teluk Sepang, disinyalir menghancurkan hutan mangrove, dan jalan diindikasikan semakin rusak akibat pengangkutan material PLTU.

Kemudian untuk dokumen ANDAL PLTU Batubara tersebut, disinyalir tidak disusun secara lengkap dan sempurna.

"Itu baru pada fase konstruksi, belum lagi dampak yang akan ditimbulkan jika PLTU ini nanti gagal dihentikan,"ujarnya.

Senada dengan itu Jalaludin, tokoh masyarakat Teluk Sepang yang juga seorang petani mengungkapkan, berdasarkan pengamatan terhadap PLTU batu bara Keban Agung yang telah beroperasi sejak tahun 2012, telah memberikan dampak lingkungan, kesehatan serta menurunkan tingkat produktivitas pertanian warga Muara Maung, Kabupaten Lahat.

Jalaludin yang telah mendatangi warga terdampak PLTU Keban Agung menceritakan, nasib petani padi dengan luasan lahan 0,5 ha sebelum adanya PLTU mampu menghasilkan 24 karung gabah. Tetapi sejak PLTU Keban Agung beroperasi jumlah produksi padinya semakin turun, hasil panen terakhir hanya mendapatkan 8 karung gabah.

“Sidang dengan agenda replik yang digelar di PTUN Bengkulu dimanfaatkan sebagai momentum menyuarakan keresahan warga atas keberadaan PLTU Teluk Sepang, yang saat ini dalam tahap konstruksi,” terangnya.

Dibagian lain, Koordinator lapangan, Rayendra dari Departemen Politik dan Kajian Strategis KBM-BEM Universitas Bengkulu memaparkan, PLTU batu bara bukanlah solusi energi yang dibutuhkan warga Bengkulu dan bangsa ini.

“Banyak sumber listrik lain yang bisa diproduksi tanpa mengancam masa depan generasi bangsa,” jelansya.

Sementara dalam kesempatan itu juga para mahasiswa dan masyarakat yang bergabung dalam Koalisi Langit Biru melakukan teatrikal, dengan sebuah ondel-ondel setinggi tiga meter yang diibaratkan sebagai cerobong PLTU batu bara Teluk Sepang.

Aksi tersebut juga diisi dengan pembacaan puisi, pembentangan spanduk dan poster dengan sejumlah pernyataan seperti, PLTU batu bara mencemari tanah kami, dan PLTU batu bara meracuni udara kami.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00