• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

PSI Sorot Anak Sebagai Korban Radikalisme

15 May
19:58 2018
0 Votes (0)


KBRN, Bengkulu : Rentetan peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja serta Mapolrestabes Surabaya, menyisakan pilu yang berkepanjangan bagi bangsa ini.
Lantaran bagaimana tidak, ada anak-anak yang tidak sepantasnya menjadi pelaku, ikut dilibatkan oleh sang orang tua. 

"Banyak pertanyaan dalam benak kita, bagaimana mungkin orang tua yang seharusnya melindungi anak malah sebaliknya mengorbankan anaknya menjadi “pengantin” bom, di saat anak lainnya sedang bermain dan bergembira. Sungguh sebuah tindakan di luar nalar kemanusiaan, mengajak anak berbuat kejahatan atas nama agama. Hal ini terjadi saat orang dewasa terpapar dogma dan doktrin ekstrim yang membuat nalar dan logika tidak lagi berfungsi normal. Sehingga tidak ada penyesalan untuk mengorbankan orang lain. Bahkan orang-orang terdekat yang dicintai, termasuk anak-anak," ujar Jubir Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bengkulu Zaumi Sirad, kepada jurnalis.

Dikatakan, semestinya peran orang tua sangat penting dalam mengarahkan pemahaman ideologi anak, dan sangat berbahaya, jika ideologi terorisme memasuki ruang keluarga.

"Kita sangat menyesalkan tindakan keji orang tua yang telah mengorbankan anak-anak untuk menjadi pengantin bom bunuh diri. Tidak ada pembenaran dari sudut pandang agama apapun, untuk mengorbankan anak-anak tidak berdosa demi memenuhi dugaan nafsu orang tua yang telah terpapar doktrin terorisme," sesalnya, Selasa (15/6/2018).

Kendati demikian Ia mengajak, seluruh masyarakat untuk menyayangi dan melindungi anak-anak, sesuai kewajiban sebagai orang tua.

"Kita buat dunia yang lebih baik bagi mereka (anak-red), dunia yang lebih toleran, cinta keberagaman dan cinta perdamaian. Lalu tanamkan nilai-nilai positif kepada anak, jauhkan dari paham radikal, karena bangsa ini sangat membutuhkan anak-anak berkarakter kuat dan baik, agar Indonesia semakin hebat dimasa yang akan datang," tukasnya. (rep/red)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00