• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

RUANG PUBLIK

CATATANG PALIDANGAN NOORHALIS : “SANG KOSMOPOLIT”

13 February
08:55 2020
0 Votes (0)

KBRN Banjarmasin : Merupakan Buku yang ditulis Hairus Salim, budayawan Nahdliyyin asal Tabalong Kalsel. Seorang yang sangat mengagumi Gus Dur. Baginya Gus Dur sang Kosmopolit. Pemikirannya tentang Islam sangat universal. Menurutnya universalisme Islam, akan menjadi nyata dan menyumbang pada kemanusiaan, jika ada dukungan sikap kosmopolit seperti keterbukaan, kesediaan berdialog dan keberanian membuat terobosan pengetahuan.

Dalam buku ini, Hairus Salim mengaku kenal dekat dengan Gus Dur sejak kuliah. Bahkan dia menceritakan kenal Gus Dur waktu masih sekolah. Ada buku milik ayahnya, buku tentang KH Ahmad Wahid Hasyim. Yang menarik, dalam buku tersebut tidak ada nama Gus Dur, yang ada justru nama Hasyim Wahid. Ada nama Abdurrahman Ad Dahil. Setelah lama, baru dia tahu bahwa itulah nama sebenarnya dari Gus Dur. Karena ternyata Gus Dur hanya mengambil nama depannya Abdurrahman dan disambung dengan nama ayahnya Wahid. Tidak pernah Gus Dur memakai nama Abdurrahman Ad Dahil, sehingga hampir tidak ada yang mengenal nama tersebut, kata Hajriansyah, mengawali perbincangan di Palidangan Noorhalis, Pro 1 RRI Banjarmasin, Kamis, 7 Februari 2020, dengan tema Sang Kosmopolit, buku baru yang ditulis Hairus Salim.


Buku ini menceritakan pengalaman Hairus Salim, tertuang dalam berbagai catatan ringan, baik dalam bentuk esai, makalah, ataupun tulisan di facebook, mengulas tentang sosok Gu Dur. Tulisan tersebut dikumpulkan, dan jadilah buku Sang Kosmopolit. Suatu kumpulan catatan yang ditulis dengan gaya bahasa khas, sehingga terasa sangat dekat dengan Gus Dur.

Salim mengaku dulu dia membayangkan Gus Dur itu seorang yang besar, karena waktu itu melihatnya dari jauh. Namun setelah dekat dan akrab, ternyata orangnya sangat cair. Bahkan Gus Dur sering bertanya kepada Salim tentang buku apa yang lagi ramai dibaca. Lalu menyelenggarkan berbagai diskusi buku dibanyak tempat. Mau saja Gus Dur menenteng buku kemana-mana, sekedar menceritakan dalam berbagai forum bahwa ada buku bagus yang harus dibaca.

Dari situ muncul kekaguman. Bahwa ternyata Gus Dur sosok humanis, kosmopolit, seorang yang sangat terbuka, bisa bergaul dengan siapa saja dan tidak ada sekat sama sekali. Kelebihan dari buku ini adalah kemampuan bercerita dari Hairus Salaim, sehingga sangat enak dibaca, ringan dan yang pasti mampu memotret Gus Dur dari sangat dekat, kata Hajriansyah melanjutkan paparannya.

Narasumber lainya, Anwar Masduki Azzam, seorang peneliti, mahasiswa University of Groningen, khusus meneliti Gus Dur dan mengumpulkan banyak buku Gus Dur dan buku tentang Gus Dur, mengakui sudah banyak buku tetang Gus Dur. Bahkan Azzam berencana membuat pojok perpustakaan khusus buku tetang Gus Dur.

Buku Hairus Salim ini kata Azzam, berhasil menjelaskan posisi Gus Dur terhadap berbagai wacana yang berkembang. Bahwa Gus Dur mampu mendialogkan sesuatu yang biasa dipertentangkan. Menjadi muslim itu semestinya kosmopolit, mampu menjadi warga dunia. Sering Islam itu dipertentangkan dengan Barat. Kenapa harus diperbandingkan? Sangat tidak padan. Barat itu padan bila dibandingkan dengan Timur, dengan Utara atau Selatan, bukan dengan Islam. Ada hal yang menjadi tertawaan orang di Eropah, karena banyak orang menghadapkan Islam dengan Eropah. Dua hal yang berbeda tapi dihadap-hadapkan.

Gus Dur berhasil mendudukan Islam dan negara, sehingga tidak saling menegasikan. Tidak saling mendominasi. Peristiwa di Minahasa baru-baru tadi, menggambarkan bahwa apa yang diajarkan Gus Dur masih sangat relevan dalam kontek kekinian. Agar semua kita saling menjaga hubungan antar agama, hidup damai dalam perbedaan, bukan saling mengalahkan satu dengan lainnya.

Hairus Salim kembali mengingatkan kita semua, agar Islam itu dipahami dengan sebaik-baiknya, maka akan ada titik temu dari banyak perbedaan, baik berbedaan agama, budaya, aliran dan lain sebagainya. Keberanian mendialogkan berbagai perbedaan itu membuat kita mampu memahami bahwa kita memang berbeda. kata Azzam.

Padilah Rizani, anak mudah NU yang juga mengagumi Gus Dur, melihat buku ini tidak saja soal kiyai kampung yang kemudian menjadi tokoh dunia, atau kiyai yang menjadi presiden, tapi seseorang yang terus mengajarkan agar kita sebagai muslim harus memanusiakan manusia. Karena itu bila kita memandang semua manusia sama, maka tidak akan ada radikalisme, terorisme, eksklusifisme, serta tindak kekerasan atas nama agama.

Gus Dur mengajarkan agar beragama dengan santai. Tidak perlu keras, apalagi sampai menutup diri dan menjauhi orang lain yang berbeda. Dengan santai, maka berbagai persoalan berat menjadi ringan. Tugas orang beragama memang meringankan masalah yang berat agar mampu diselesaikan dengan mudah, kata Padilah.

Hajriansyah kemudian menambahkan, dalam buku ini Hairus Salim juga mengenalkan Gus Dur sebagai tokoh gagal yang berhasil. Tentu ini sangat unik. Gagal tapi berhasil. Dia manusia yang penuh kegagalan. Kuliah di mesir, gagal. Bahkan sering bolos dan suka nonton film, alasannya, semua pelajaran yang diberikan sudah dia pelajari di pesantren. Kuliah lagi di Bahgdat, juga gagal, hingga melanjutkan ke Iraq. Pernah mendaftar jadi dosen IAIN di Surabaya, juga gagal. Bayangkan anak seorang tokoh, bahkan anak menteri agama, gagal mendaftar jadi dosen IAIN.

Ternyata berbagai kegagalan tersebut, menjadi mendorong untuk sesuatu yang lebih besar. Kata Salim dalam buku ini, kalau diantara kegagalan itu ada yang berhasil, maka bisa jadi Gus Dur tidak akan menjadi seperti yang kita kenal, bahkan mungkin tidak akan menjadi presiden.

Gus Dur benar-benar menjadi teladan bagi banyak orang. Misalnya ketika selesai diangkat menjadi presiden, yang beliau lakukan mendatangi tiga orang sastrawan untuk meminta pendapat dan nasehat. Sastrawan dianggap sebagai orang yang layak memberikan nasehat. Bayangkan hari ini, adakah kepala daerah yang mendatangi sastrawan setelah dilantik, malah justru dijauhi dan tidak pernah dianggap.

Azzam juga menambahkan penjelasannya, menarik buku ini, Salim mengawali tulisannya dari berbagai kegagalan Gus Dur, kita harus menanyakan langsung, kenapa mengawalinya dari cerita-cerita gagal. Mungkin maksudnya agar pembaca tahu bahwa Gus Dur bukan makhluk sempurna, serba tahu, serba bisa. Perfek 100%. Salin melihat sisi manusia dari Gus Dur yang banyak salah dan gagalnya, tapi tidak pernah menganggap itu masalah, kemudian justru terus maju membuat perubahan.

Paidilah pun ikut menambahkan, dia berharap anak muda dapat mencontoh Gus Dur, menjadi generasi yang toleran. Tidak perlu ekskulif, harus menjadi seorang yang inklusif, mau menerima perbedaan dan hidup damai dalam perbedaan. Mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, ukhuwah basyariah. Sehingga kita hidup dalam suasana persaudaraan.

Para pendengar Palidangan juga ikut menyampaikan tanggapannya.

Saddam di Banjarmasin, mengaku sudah mengenal Gus Dur jauh sebelum jadi presiden. Beliau sosok yang menarik. Yang paling paling berkesan, ketika menyampaikan “gitu aja kok repot”, ungkapan itu sangat dalam, bahwa segala persoalan mudah diselesaikan bila kita ingin menyelesaikannya. Jangan mempersulit yang mudah, apalagi mencari-cari masalah.

Suriani Hair, di Kelayan Banjarmasin, sebuah buku yang bercerita tentang sejarah personal sangat ditentukan oleh siapa penulis dan penuturnya. Kalau ditulis dan dituturkan dengan menarik, maka bukunya juga akan menarik. Apalagi bila sasarannya anak muda, karena memang mereka generasi yang harus merawat bangsa ini. Maka bahasa yang ditulis harus bisa diterima anak muda. Harus bisa menjelaskan tentang apa yang menjadi pikiran sang tokoh dan apa yang terjani sekarang ini, apakah masih relevan menjawab persoalan-persoalan sekarang, kalau masih, maka bukunya akan diterima dan dibaca.

Opung di Banjarmasin, saya mengidolakan Gus Dur, karena dia suka mahalabiu. Seorang yang terus terang, juga seniman dan enjoy dalam merespon soal-soal yang dianggap berat ataupu serius.

Hj Ratna di Marabahan, ada ungkapan Gus Dur yang saya ingat, “sebodoh-bodoh orang adalah mau meminjamkan buku, lebih bodoh lagi yang mengembalikan”. Gus Dur menganjurkan untuk membaca 5 buku, saya lupa judulnya.

Azzam memberikan tanggapannya, bahwa “gitu aja kok repot”, adalah adigium yang besar. bahkan di Jawa Timur, ada komunitas Gitu Aja Kok Repot. Bahwa hal besar itu sebenarnya tidak ada. Semua ini masalah biasa saja. Masalah kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Bahkan kalau mengaku berislam dengan kaffah, harus sampai pada pemahaman bahwa semua sudah diatur oleh Allah, kenapa harus repot. Santai saja, sang maha pengatur sudah mengaturnya sedemikian rupa.

Buku ini usaha Hairus Salim, bagaimana seorang muslim menjadi sang kosmopolit sebagaimana Gus Dur. Namun untuk menjadi kosmopolit, Gus Dur membaca banyak buku, tanpa batas, semua buku dibaca, dilahap habis. Ia juga mengembara ke berbagai negara, belajar ke banyak sekolah dan tokoh, bergaul secara luas dengan berbagai kalangan. Kalau hanya berdiam diri di kampung saja, tidak akan menjadi seorang yang kosmopolit.

Paidilah memberikan tanggapan, ada lagu bang haji, ‘kalau sudah tiada, baru terasa’, mungkin itulah yang terjadi dengan Gus Dur. Waktu dia ada, banyak sekali hujatan, setelah tidak ada, semua orang merindukannya. Apalagi saat intoleransi merebak, orang rindu sosok Gus Dur yang mengayomi, dan memimpikan ada sosok yang seperti itu.

Hajriansyah juga memberikan tanggapan, memang benar, tokoh dalam sebuah cerita atau buku, tergantung dari siapa yang menyampaikannya. Hairus Salim saya kira sangat tepat, karena dia anak muda NU yang sering berada di lingkungan Gus Dur. Dia juga salah satu pendiri Gus Durian. Dia tulis dengan bahasa yang sangat nyaman dibaca. Renyah, sehingga anak muda pasti suka.

Misalnya di halaman 42 dia bercerita tentang pertemuan Gus Dur dengan Guru Sekumpul. Berawal dari obrolan Salim dengan Gus Dur di mobil saat mengunjungi anak Gus Dur di Magelang. Sepanjang perjalan, Gus Dur tidur, bangun, tidur lagi. Nah saat bangun di perjalan, Gus Dur tiba-tiba bertanya siapa ulama terkenal asal Kalimantan Selatan? Salim kemudian menjawab KH Zaini Ghani atau Guru Sekumpul. Setelah itu, baru bertemu Guru Sekumpul ketika menjadi presiden, mungkin itu pertemuan pertama Gus Dur dengan Guru Sekumpul.

Diceritakan pula dalam buku ini, bahwa Gus Dur seorang pembaca buku yang hebat. Suka menulis, bahkan sangat produktif. Bukunya tersebar di mana-mana. Seorang yang suka menyimak pikiran orang lain, sehingga mengerti dan mau memahami orang lain. Bila tidak suka menyimak pikiran orang lain, jangan berharap menjadi seorang yang serbuka, kata Hajri menutup obrolan Palidangan yang dipandu langsung Noorhalis Majid. (NM)

CATATAN PALIDANGAN NOORHALIS : Pro 1 RRI Banjarmasin, Kamis, 6 Februari 2020, Pukul 10.00 – 11.00 wita

Narasumber: Anwar Masduki Azzam (Peneliti), Padilah Rizani dan Hajriansyah (Budayawan)

00:00:00 / 00:00:00