• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

PILKADA SERENTAK

Polda Lampung Ajak Masyarakat Santun Bermedsos

3 April
16:29 2019
3 Votes (5)

KBRN, Bandar Lampung: Menjelang Pemilu bersama 17 April 2019  yang sudah hitungan hari,  Polda Lampung menggelar talk show/dialog  interaktif di Lamban Yoso Kabupaten Pesisir Barat, bertindak sebagai narasumber Talk show yang bertemakan "Santun Bermedsos" tersebut, M. Tio Aliansyah, Komisioner KPU Lampung, Kombes Pol Shoberman dari Polda Lampung dan Yusdiyanto yang merupakan Pengamat Hukum Universitas Lampung.

Dalam kesempatan itu, Wakapolda Lampung, Brigjen Pol. Teddy Minahasa, mengatakan ujaran kebencian dan hate speech yang dilakukan melalui media social sudah kian meningkat mendekati pelaksanaan Pemilu 2019.

Untuk itu Wakapolda mengajak semua pihak temasuk generasi mellineal untuk cerdas menggunakan media social, dengan menyampaikan berita yang baik.

Mantan Kapolda Banten itu juga menghimbau semua pihak untuk mensukseskan pemilu 2019 secara aman, sejuk dan bertangungjawab melalui santun bermedia sosial.

"Jangan sampaikan berita yang menggandung konten kebohongan (hoax) apalagi memiliki unsur ujaran kebencian," ujar Brigjen Pol. Teddy Minahasa.

Sementara Komisioner KPU Lampung M Tio Aliansyah pada acara itu mengatakan, KPU Lampung dan jajajarannya sampai ke tingkat desa telah mempersiapkan logistik dan perangkat pemilihan, menerangkan syarat pindah tempat pemilihan, dan menyerukan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan menyukseskan penyelenggaraan pemilu, apalagi pemilu kali ini dilakukan secara bersama yaitu pemilu presiden dan wakil presiden dan pemilu legislative (memilih anggota DPD, DPR, DPRD Prov. DPRD Kabupaten/Kota).

Ditempat yang sama, Kombes Pol. Sobarmen, mengatakan, jelang pemilu kasus hoax (berita bohong) semakin meningkat, berita hoax sangat berbahaya karena bisa memecah belah bangsa, mengganggu kebhinekaan dan keutuhan NKRI. Untuk generasi millenial agar cerdas dan santun menggunakan media social. 

Menurut Dirnarkoba Polda Lampung itu, masyarakat bila menerima atau menulis status dimedia sosial agar dicermati dan tidak boleh asal percaya serta menshare berita, karena menurut UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp1miliar.

Sementara Akademisi Fakultas Hukum Unila, Yusdiyanto mengatakan pemilu merupakan pilar demokrasi, maka diperlukan untuk mengawal demokrasi, karena suksesnya pemilu ditentukan oleh penyelenggaara pemilu (KPU dan Bawaslu), tingkat partisipasi masyarakat serta TNI dan Polri dalam mengamankan pemilu dari pra, saat dan pasca pemilu. 

Menurutnya, ada tiga tantangan yang berbeda pada pemilu 2014 dengan pemilu 2019, pemilu kali ini nampak mengerasnya demokrasi melalui politik identitas, ujaran kebencian, dan kampanye hitam.  Diera kampanye kali ini black campaign dan negative campaign kian terasa dan cenderung meningkat, untuk itu khususnya generasi milineal untuk tidak mudah terhasut dan mari santun bermedia sosial.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00