• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pemerintah

33 Nelayan Aceh Ditangkap Negara Thailand, Kemenlu Konfirmasi Ada Tiga Anak di Bawah Umur

26 February
13:36 2020
0 Votes (0)

KBRN, Banda Aceh : Kepala Dinas Sosia Aceh Alhudri menyatakan, Kementerian Luar Negeri telah menyurati Pemerintah Aceh yang ditujukan kepada Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah untuk memberitahukan kondisi 33 WNI yang merupakan nelayan asal Aceh yang ditangkap oleh otoritas negara Thailand karena dituduh melanggar batas wilayah laut dan melakukan pencurian ikan.

Kata Alhudri, dari laporan tersebut dikonfirmasi bahwa dari 33 nelayan yang kini masih diamankan oleh otoritas Negara setempat, ditemukan tiga orang anak masih di bawah umur, namun mereka ditahan di tempat yang berbeda. 

“Dari 33 WNI tersebut, 30 orang dewasa, sedangkan 3 WNI lainnya merupakan anak di bawah umur,” kata Alhudri di Banda Aceh, Rabu (26/2/2020). 

Lebih lanjut kata Alhdri, saat ini ke-33 WNI yang telah ditemui oleh Tim Konsuler dalam kondisi sehat. 30 WNI dewasa tersebut ditempatkan di penjara Phang Nga.

“Sedangkan 3 WNI di bawah umur ditempatkan di rumah penitipan anak di Phuket,” ujarnya.

Alhudri menjelaskan, saat ini kasus penangkapan 33 nelayan asal Aceh itu masih berada dalam proses sidik di polisi Phang Ngah (Thailand) dan belum dilimpahkan ke Jaksa. 

"Masa sidik akan memakan waktu 48 hari dan dapat diperpanjang. Terkait dengan jadwal sidang, Otoritas Thailand akan menginfokan KRI Songkhla 1 minggu sebelum sidang dilakukan," kata Alhudri. 

Lebih lanjut, Dia menyebutkan, tuduhan yang sangkakan kepada 33 nelayan Aceh itu ialah pelanggaran UU perikanan. 

"Karena kapal dilengkapi alar pencarian ikan berupa trawl, alat navigasi dan sejumlah besar awak kapal untuk ukuran kapal nelayan tradisional sehingga ditemukan bukti kuat adanya pencurian ikan di ZEE Thailand," ujarnya. 

Alhudri menyatakan, KRI Songkhla telah memberangkatkan tim Konsuler ke Phang Nga guna memastikan adanya bantuan kekonsuleran terhadap 33 WNI tersebut pada Kamis, 23 Januari 2020 pagi. 

"Tim Konsuler KRI Songkhla telah tiba di pangkalan Royal Thai Navy untuk menyambut ke-33 WNI tersebut bahkan sebelum proses penarikan kapal selesai dilakukan," bebernya. 

Bantuan kekonsuleran yang diberikan, tambah Alhdri, meliputi tenaga penerjemah, bimbingan untuk pemahaman proses hukum yang akan dihadapi di Thailand, penelusuran dokumen WNI dan mengantisipasi pengambilan data bio metrik untuk keperluan dokumen perjalanan RI bagi WNI yang tidak memiliki paspor, pemantauan kondisi kesehatan ke-33 WNI serta memfasilitasi komunikasi dengan keluarga yang bersangkutan di tanah air.

KRI Songkhla telah memfasilitasi pemilik kapal untuk bertemu dengan seluruh WNI yang berada dalam kapal tersebut dan telah meminta pemilik kapal untuk mengayomi keluarga seluruh WNI tersebut di Indonesia.

"KRI Songkhla telah menginformasikan kepada Gubernur Aceh mengenai perkembangan dan penanganan yang telah dilakukan terkait kasus tersebut," ujarnya. 

Nelayan yang ditangkap dalam kedua kapal tersebut berasal dari Aceh Timur dan berasal dari Tekong yang sama melakukan pelanggaran pada tahun lalu sebanyak 11 orang. Kemlu dan KRI Songkhla akan terus memantau proses sidik pertama selama 48 hari dan pelimpahan kasus dr polisi ke jaksa. Kemlu dan KRI Songkhla siapkan pendampingan hukum jika kasus ini sudah dilimpahkan ke pengadilan.

Sebelumnya diberitakan, pada tanggal 21 Januari 2020, Royal Thai Navy (RTN) melakukan penangkapan terhadap 2 kapal berbendera Indonesia, yaitu KM Perkasa dan KM Mahesa yang di dalamnya terdapat 33 WNI. 

Setelah penangkapan dilakukan, kedua kapal tersebut ditarik ke markas RTN di pangkalan Thap Lamu, provinsi Phang Ngah, sekitar 9 jam perjalanan dari KRI Songkhla.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00