• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ragam

Peras Anak Dibawah Umur Lewat Sosmed, Napi di Aceh ini Diringkus Polisi

14 February
11:31 2020
0 Votes (0)

KBRN, Banda Aceh : MR (23) seorang nara pidana yang mendekam di Rumah Tahanan (Rutan) Kajhu Banda Aceh terpaksa berurusan dengan hukum. Dia diduga telah melakukan tindak pidana pemerasan lewat media sosial dengan modus pengancaman terhadap anak di bawah umur. 

"Tersangka ditangkap pada tanggal 7 Februari lalu di Rutan Kajhu," kata Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh AKP M. Taufiq, Jumat (14/2/2020). 

Taufiq menjelaskan kronologi kejahatan yang dilakukan oleh tersangka, dengan modus melakukan pemerasan melalui akun media sosial (Instagram). 

"Korban merupakan warga Banda Aceh berumur 14 tahun, masih sekolah SMP. Korban diperas oleh pelaku dengan memintai sejumlah uang," ujar Taufik. 

Pelaku yang merupakan warga Banda Aceh itu melakukan modus pemerasan dengan handphone yang dimasukan ke dalam rutan. Menurut pengakuan, pelaku dan korban saling kenal di media sosial. 

"Jadi pelaku mengancam korban, karena korban anak di bawah umur dan mengalami tekanan sehingga korban mengirimkan uang ke pelaku setelah diancam. Korban mengirim uang dengan cara mentransfer lewat ATM," jelas Taufiq. 

Dari hasil kejahatannya, pelaku meraup keuntungan jutaan rupiah. Alasan mengapa korban melakukan tindak pidana kejahatan ini karena faktor ekonomi. 

"Diduga korban lebih dari satu, namun yang melapor baru satu orang. Rata-rata targetnya adalah anak-anak di bawah umur yang menggunakan akun Instagram. Laporan dibuat oleh orang tua korban. Dari hasil penyelidikan kita, uang dari hasil kejahatan ini berjumlah Rp 1,840.000 dari via transfer dan Rp 2.150.000 via kurir," rincinya. 

Namun tambah Taufiq, barang bukti yang telah kita amankan uang tunai Rp 400.000, handphone pelaku, akun Instagram, bukti transfer dan percakapan pesan di Instagram. 

Taufiq menyebutkan, pelaku merupakan napi yang sedang menjalani masa hukuman selama 2,5 tahun atas kasus pencurian di wilayah hukum Ulee Kareng Banda Aceh. 

"Kasus pencucian, telah menjalani hukuman satu tahun," sebutnya. 

Saat ini, penyidik Polresta Banda Aceh tengah menyelidiki keterlibatan orang lain termasuk sejumlah kurir yang membantu tersangka untuk mengantar uang tersebut ke dalam rutan. 

"Ini masih kita dalami, termasuk bagaimana cara dia memasukan handphone ke dalam rutan, menurut pengakuan handphone tersebut milik rekannya. Ini kita telusuri," tegas Taufiq. 

Atas perbuatannya, tersangka MR dijerat dengan pasal UU ITE dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara. 

Sementara itu, MR saat ditanyai awak media mengaku, hasil kejahatannya tersebut digunakan untuk kebutuhan di dalam rutan. 

"Untuk beli rokok dan kebutuhan lainya di dalam rutan," aku MR. 

MR mengatakan, kurir yang membantu ia membawa uang ke dalam rutan diupah sebesar Rp 200 ribu. 

"Korbannya ada beberapa orang. Kalau sama korban yang ini saya kenal, rumahnya tau, tapi kalau sama orang tuanya tidak kenal." 

"Kalau handphone ini milik teman, bukan punya saya, saya tidak tahu bagaimana handphone tersebut dimasukan ke dalam rutan," kata Dia. 

Saat ditanya apakah ada setoran untuk oknum rutan, MR mengaku tidak ada. Uang tersebut digunakan untuk membeli makanan dan kopi serta rokok di dalam rutan. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00