• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ragam

Biadab, Orang Tua yang Suruh Anaknya Ngemis di Aceh, Uangnya untuk Beli Sabu

21 September
14:04 2019
0 Votes (0)

KBRN, Lhokseumawe : Kasus eksploitasi anak di bawah umur di Kota Lhokseumawe, Aceh, membuat publik tak habis pikir. Bukanya melindungi anak kandungnya sendiri, malah kedua orang tua ini menyuruh anaknya untuk mengemis. 

Sang anak berinisial MS (9) sekarang sudah diserahkan kepada Dinas Sosial setempat. Kasus ini sudah ditangani oleh Polres Lhokseumawe. 

Kepada polisi, ayah tiri korban MI (30) dan ibu kandung UG (34) mengakui perbuatanya. Bahkan kedua orang tua ini tak segan-segan melakukan penganiayaan hingga korban dirantai di rumahnya jika tidak membawa pulang uang hasil mengemis. 

Kasatreskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang, Sabtu (21/9/2019) mengatakan, kedua orang tua korban kini telah ditahan dan korban sudah diserahkan ke Dinas Sosial Kota Lhokseumawe. 

"Kami serahkan ke Dinas Sosial," katanya.

Polisi mengungkap sejumlah fakta yang cukup mencengangkan dalam kasus ini. Ternyata korban MS disuruh mengemis sejak usia 6 tahun. Hasil mengemis itu sendiri digunakan kedua orang tua untuk membeli narkoba jenis sabu dan judi. Orang tua korban juga mematok hasil mengemis yang harus dibawa pulang oleh korban Rp 100 ribu dalam sehari. 

Diketahui, kedua orang tua korban ini tidak memiliki pekerjaan, hasil mengemis dari korban inilah menjadi sumber pendapatan mereka. Setiap harinya korban disuruh meminta-minta di jalanan seputaran kota Lhokseumawe. Bahkan kakak kandung korban juga mengalami hal serupa. 

Kasat Reskrim mengatakan, kasus ini terungkap setelah pihaknya mendapat laporan dari warga terkait adanya tindak pidana penganiayaan terhadap anak di bawah umur oleh orang tuanya sendiri. 

"Korban tinggal bersama orang tuanya di Lr. Metro, Desa Kota Lhokseumawe, Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe," sebut Indra. 

Kedua pelaku eksploitasi terhadap anak tersebut disangkakan Pasal berlapis dalam UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 3 tahun 2002 tentang perlindungan anak. 

"Selanjutnya digunakan pula Pasal - Pasal dalam UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT juncto pasal 65 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.200.000.000 (dua ratus juta rupiah)," tegas Indra Herlambang. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00