• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 Hijriah, Warga Fattolo Gelar Zikir dan Shalawat Bersama

11 November
17:06 2019
2 Votes (4)

KBRN, Bula : Ratusan warga Desa Fattolo, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur(SBT), Maluku, Minggu, (10/11), menggelar zikir dan shalawat bersama untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad 1441 Hijriah atau 2019 M yang dipusatkan di Masjid Al-Fajr, desa setempat.

Seperti pada tahun–tahun sebelumnya, lantunan zikir dan shalawat untuk memperingati hari kelahiran baginda Rasullullah Muhammad Sallauallahu Aalaihi Wassalam(SAW) oleh warga di desa fattolo memiliki keunikan tersendiri karena diiringi dengan tabuhan alat musik rebana.

Kebiasaan ini sudah turun–temurun dan sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Konon kabarnya, tradisi ini dibawah oleh para leluhur dari Jazirah Tanah Besar khususnya dari wilayah Tutuktolo yang eksodus ke wilayah bula.

Salah satu warga desa fattolo Djamil Rumodar mengungkapkan, setiap tahun tradisi tersebut selalu digelar dan merupakan wujud kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

“ Tiap tahun bagini sudah. Itu katong mulai dari pagi sampe sore mau magrib bagitu. Rame tarus karena itu bunyi-bunyi tipa itu.  Oarang dari kota jaga-jaga datang lai,” ujarnya.   

Selain menggelar zikir dan shalawat, warga desa fattolo juga menggelar tradisi saling memberi makanan kepada sesama yang  mirip tradisi “ ketuwihan atau weh-wehan di pulau jawa.

Tradisi ini juga sudah berlangsung sejak lama yang mengandung makna berbagi dan menyambung tali silahturahmi. Di beberapa wilayah di Kabupaten SBT, tradisi ini umumnya dikenal dengan nama “ Hitu’ar”.

Makanan khas yang dibagi dalam tradisi ini berupa panganan lokal berbahan dasar sagu dan buah kenari atau istilah lokalnya kue “Tan-tan” serta buah-buahan segar maupun yang sudah diolah. Tradisi “ Hitu’ar” sangat disukai anak-anak karena mereka bisa saling merasakan berbagi makanan dengan tetangga.

Namun demikian seiring dengan perkembangan zaman, berbagi makanan khas itu mulai hilang dan sudah mulai digantikan dengan menu makanan sehari–hari.  Hanya ada beberapa desa di Kabupaten SBT yang hingga kini masih mempertahankan tradisi berbagi menggunakan makanan khas tersebut. (HA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00