• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Moluccas Coastal Care, Gerak Cepat Bantu Korban Gempa Maluku

21 October
10:58 2019
2 Votes (2.5)

KBRN:Ambon- Paska gempa 6.5 M,  yang terjadi pada Kamis 26 September 2019,  sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas Moluccas Coastal Care (MCC) melakukan berbagai upaya untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa seperti di Pulau Ambon, Pulau Haruku dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah dengan membuka open donation sejak tanggal 30 September -17 Oktober. MCC berhasil mengumpullan dana donasi sebanyak Rp 18.650.000 dengan  sumber dana sebagian berasal dari orang maluku yang berada di negeri belanda, basudara di pulau jawa dan di kota ambon serta dari Amerika  

"Donasi awal kami berikan bagi pulau haruku khusus di negeri Haruku-sameth dan negeri oma yang terkena dampak parah. Kemudian kami melakukan taruma healing di negeri liang (awalnya) dan melakukan medical check up umum bagi anak2 di tempat pengungsi negeri waai,"jelas Stefany Salhuteru, Ketua Komunitas Moluccas Coastal Care (MCC), Senin (21/10/19).

Dalam proses membantu korban gempa dan upaya pemulihan,Moluccas Coastal Care (Kalesang Pesisir Maluku) dihubungi Yayasan Bakti Anak Langit Foundation (Pemain Filem Anak Langit SCTV), Billy Waken yang merupakan salah satu anak Maluku berdarah tanimbar untuk berkolaborasi membantu korban gempa dan melakukan taruma healing di Pulau haruku-sameth, suli, liang, tulehu, dan Negeri Hatusua SBB.

"Kemudian kami dihubungi dari yayasan bakti anak langit foundation (pemain film Anak langit SCTV) yang bernama billy waken merupakan anak maluku berdarah tanimbar. Akhirnya MCC berkolaborasi bersama untuk membantu korban gempa dan melakukan trauma healing di Pulau haruku-sameth, suli, liang, tulehu, Negeri Hatusua SBB,"ungkapnya. 

Selain itu MCC juga berkolaborasi dengan Baronda.id. Salhuteru menuturkan Saat bersama team mengambil foto dan video di dalam Gereja Ebenheizer Jemaat Haruku Sameth yang terdampak parah seketika mereka dikagetkan dengan gempa susulan. 

"Ada cerita menengangkan waktu di negeri Haruku. bersama team kami mengambil foto dan video di gereja dan dikagetkan dengan gempa sementar kami berada di dalam gerereja Ebenheizer Jemaat Haruku Sameth yang telah rusak parah akibat gempa. Tapi puji Tuhan kami cepat kaluar dari gereja dan aman. Kondisi pengungsi di negeri Haruku saat itu sangat trauma dengan gempa. Mereka tidak ingin kembali ke rumah karena rumah mereka retak dan ada yg rusak berat,"Cerita Salhuteru penuh semangat. 


Perjalanan pun di lanjutkan di negeri Oma bersama komunitas Toro Vocal Team dengan speed. Saat di jelan terlihat dipinggirab pantai ada batu besar yang terguling ke laut akibat gempa 6,5 M. Tiba dinegeri ternyata ditemukan juha batu raksasa yang tergulimg dan menimpah rumah warga Negeru Oma. Mereka juga bertemu dengan salah satu pemgungsi lansia (86) yang sakit.dan belum mendapatkan pengobatan karena belum.ads team medias yang datang dilokasi pengungsia.

"Kami melihat di pinggiran pantai ada batu besar yang terguling ke laut akibat gempa 26 September lalu. Saat masuk di neger ternyata ada juga batu raksasa yang terguling mengenai rumah warga negeri oma. Ada juh orang tua 86 tahun yang sakit di tempat pengungsian saat itu belm ada team medis yang di datangkan di sana,'ungkapnya. 

Salhuteru menambahkan, bantuan terus mengalir untuk kerjasama membantu korban gempa di Maluku, salah satunya datang dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia, Musica Studios dan Jflow ,mereka anak-anak muda Maluku yang sukses di Jakarta salah satunya Joshua Matulessy atau dikenal sebagai JFlow merupakan seorang penulis lagu, rapper, dan penyanyi.  Mereka datang dan langsung membantu korban gempa bersama MCC. Fokus bantuan di Wassu dan Rohomoni. sedangkan air bersih untuk Pulau Ambon.

"Kemudian Puji Tuhan ada juga yang menghubungi MCC mereka dari Asosiasi industri Rekaman Indonesia, Musica Studios dan Jflow  (mereka anak2 muda maluku yang sukses di jakarta. 
Moluccas Coastal Care sangat bersyukur karena banyak anak muda di luar Ambon yang peduli dengan bencana alam yang terjadi,"tandasnya. 

Diungkapkan, Sepanjang perjalanan MCC melihat pemerintah harus extra cepat dalam menangani Trauma yang sedang terjadi mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Salah satunya mengandeng para lulusan psikologi yang ada di Kota Ambon untuk melakukan pendampingan bagi para korban gempa. 

"Kami komunitas hanya mampu melakukan trauma healing di bebrapa negeri, selebihnya pemerintah harus bekerja keras. Banyak pengungsi yg kami jumpai tidak ingin kembali ke rumah karena taruma," kata Stefanny. 

Menurutnya, selama mengunjungi lokasi pengungsian terlihat bantuan banyak yang tidak tepat sasaran, proses pendataan rumah rusak di tiap negeri tumpang tindih karena banyak yang mengambil data, padahal seharusnya Pemerintah Negeri menyampaikan data lengkap dan sesegera mungkin di respons cepat oleh Walikota maupun Bupati agar semua bantuan tepat sasaran dan rumah yang rusak akan di bangun sesuai data yang tepat.

"Komunitas hanya perpanjangan tangan dari donatur-donatur yang sudah mendonasikan bantuan. Selebihnya adalah Tugas pemerintah sebagai pengambil keputusan dan penangung jawab bagi korban gempa. Komunitas semampunya akan bekerja keras,"tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan, kendala yang dihadapi saat lapangan salah satunya tidak ada posko bantuan seperti yang terjadi di Negeri Wassu -Haruku sehingga bantuan diberikan langsung ke warga. 

"Kendala saat mau kasih bantuan ke Negeri ada beberapa negeri yang tidak memikili posko bantuan. Contoh di Wassu, akhirnya kami memberikan bantuan ke warga secara langsung,"ungkapnya. 

Menurutnya, dari keluhan warga di lokasi pengungsian seperti di Waai, bantuan lebih banyak diberikan kepada warga yang bukan korban gempa sementara penyintas yang rumahnya rusak parah terdampak gempa kurang mendapatkan bantuan. Sementara di Hatusua Kabupaten SBB hanya dibantu oleh keluarga dekat karena daerah tersebut belum terpublikasi. 

"Ini berdasarkan keluhan warga, misalnya di Waai bantuan karena rumah rusak jarang tapi lebih banyak bantuan kepada yang mengungsi bukan korban gempa. Di Hatusua SBB mereka hanya di bantu oleh keluarga dekat karena tidak terpublikasi juga oleh media,"tandanya. 

Obat -obatan menjadi hal paling dibutuhkan para penyintas di lokasi pengungsian karena mereka tidur di tenda sehingga banyak penyakit muncul, seperti anak- anak terserang gatal-gatal, orang tua batuk dll. Karena sampah dimana-mana yang membuat penyakit dan bahayanya pengungsi selalu membakar sampah plastik padahal sangat bahaya untuk pernapasan. 

"Paparan zat dioksin apabila dihirup manusia dalam waktu singkat akan menimbulkan reaksi batuk, sesak napas, dan pusing. Gejala tersebut adalah respons tubuh saat terpapar zat berbahaya, selain itu mereka juga membutuhkan Selimut kareba itu penting juga,"ungkap Salhuteru. 

Diakhir pembicaraan, Salhuteru mengaku, Trauma healing yang dilakukan salah satunya dengan mengajak anak -anak mewarnai dengan tema laut. Hal itu dilakukan sebagai upaya menjaga n mencintai laut Maluku. 

  • Tentang Penulis

    Raudha Autana

    Bissmillah..Fighting_ Reporter RRI Ambon_ "Yakusa" MamabeahQ.. BapaAmadQ..Muhhammad Ulath

  • Tentang Editor

    Raudha Autana

    Bissmillah..Fighting_ Reporter RRI Ambon_ "Yakusa" MamabeahQ.. BapaAmadQ..Muhhammad Ulath

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00