• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Menjemput Kemenangan Gemilang di Perairan Maluku dan Raja Ampat

15 September
17:57 2019
2 Votes (5)

KBRN, Bula : Dari Sulawesi, mereka mengejar kemenangan di perairan Maluku dan Papua. Dengan perahu motor tempel, mereka menaklukkan arus dan gelombang demi satu impian. Di bawah langit Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), orang-orang berperahu menjemput masa depan  gemilang dari lumbung-lumbung ikan yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke.

Mereka adalah nelayan nusantara. Nelayan pencari ikan Tuna lintas kabupaten dan provinsi bersabuk merah putih. Mereka lahir dari rahim  bangsa pelaut, hingga menguasai ilmu membaca isi laut dari bahasa gelombang, deru angin, gejolak arus dan warna langit. Meski secara suku, ras dan agama mereka berbeda, laut melarutkan perbedaan menjadi mata air yang menghidupi ketika berada dalam tekanan.   

Tribahrin alias La Turi, adalah satu dari sekian nelayan nusantara yang mengejar kemenangan di perairan Maluku dan Papua. Berbekal perahu kayu ukuran 7 x 1,2 meter dan mesin dalam, pria kelahiran 1982 ini menyasar perairan Sulawesi dan Maluku pada tahun 2011, setelah menyatakan pensiun dari berburu ikan di perairan Flores Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meski jalan tol menuju Maluku dikabarkan dijejali arus melingkar dan bukit-bukit gelombang yang menyeramkan, dia tak peduli. Bayang-bayang kehidupan yang berkecukupan, mengalahkan rasa penatnya yang menyiksa selama tiga hari di lautan. Tak sabar hatinya cepat sampai ke daerah tujuan yang ramai dibicarakan para pelaut, yakni Kampung Sesar di pesisir Kota Bula Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Kiprah nelayan nusantara pencari Tuna seperti La Turi, sejatinya sudah lama berlangsung. Mereka tak hanya datang melaut, tapi langsung menetap dengan membangun gubuk-gubuk kecil dari daun Sagu di daerah-daerah pesisir. Modal perahu kayu dan mata kail membuat mereka tak kuatir kelaparan karena peruta bumi perairan Indonesia menyimpan banyak sumber makanan dan harta yang berlimpah.   

Mereka juga tak kuatir akan diusir, karena negara telah menjamin hak mereka sebagai warga negara untuk mencari penghidupan dan memilih tempat tinggal di seluruh wilayah NKRI. Negara juga menjamin setiap warga negara untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar, berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, perlindungan hokum dan bebas memeluk agama apapun.  

Jejak mereka banyak ditemukan di daerah-daerah pesisir, mulai dari Kepulauan Banda, Buru, Seram dan Aru, bahkan di Pulau Ambon. Namun sebagian besar dari mereka menetap di daerah-daerah pesisir Seram Barat, Seram Utara, Buru dan Kepulauan Banda. Ada juga yang menetap di pesisir Seram timur, Kepulauan Kei, Kepulauan Tanimbar dan pulau-pulau terluar, namun jumlahnya tidak signifikan.  

Bermula dari Gubuk

Banyak akal yang dilakukan nelayan nusantara ketika memulai kehidupan baru di negeri seberang. Namun cara sederhana yang umum dilakukan adalah membangun gubuk kecil sebagai tempat berteduh sementara di sekitar areal fishing ground (daerah penangkapan ikan). Gubuk-gubuk kecil inilah yang kemudian akan menjamur  dan berkembang menjadi pemukiman penduduk, seperti fenomena terbentuknya Kampung Nelayan Sesar di sekitar Pelabuhan Sesar Kota Bula Kabupaten SBT.

Kampung Nelayan Sesar berada di pesisir timur Negeri (Desa) Sesar. Dia terlindung dari amukan gelombang karena menghadap sebuah tanjung yang dijadikan objek wisata, Pantai Mangrove Gumumae. Dulu, kampung ini dihuni komunitas tanaman mangrove jenis api-api (Aveccenia sp) dan akar gantung (Rhizapora sp). Namun, tanpa sepengetahuan banyak orang, selain Pemerintah Negeri Sesar, satu demi satu tanaman mangrove menghilang dari habitatnya dan diisi gubuk-gubuk nelayan.   

Konversi lahan mangrove menjadi areal pemukiman berlangsung begitu cepat hingga  dalam waktu singkat, kawasan yang pada 2005 baru diisi tiga gubuk, menjelma menjadi kampung nelayan dengan populasi penduduk mendekati 300  jiwa pada 2018.  Gubuk dan rumah papan yang dulu menjamurl, kebanyakan telah berganti kulit dengan beton, bahkan beberapa mulai dibangun mengikuti model rumah zaman now, termasuk konstruksi masjid terapung yang sedang dalam tahap pembangunan.

Proses menuju perubahan yang mencolok dalam waktu singkat, pastinya bukan terjadi tanpa sebab. Itu semua  berkah dari kerja keras mereka menaklukkan laut yang kadang bersahabat kadang mengancam. Laut telah menjadi melodi kehidupan yang membuat mereka tersihir, hingga segala daya dikerahkan untuk mengambil sebanyak mungkin kebaikan-kebaikan yang tersimpan di dalam perutnya.    

La Ganti, 35 tahun, kepada RRI, Minggu (08/09/2019) bercerita pertama datang ke Sesar tahun 2011. Sebelum ke sini, dia pernah bekerja sebagai kaki tangan pengusaha ikan non pribumi. Tak puas dengan pekerjaannya, dia berhenti dan beralih profesi menjadi nelayan penangkap Tuna dari Tehoru, Seram selatan yang berhadapan dengan Laut Banda.

Modal perahu tempel mesin 40 PK, pria kekar bertubuh mungil ini, menyasar perairan Laut Banda yang melegenda dengan kekayaan maritimnya. Kadang dia menyisir perairan Kei dan Aru, jika kondisi laut di Banda tidak bersahabat. Hasil yang diperoleh sejatinya cukup banyak, namun prospek jual beli hasil laut di Tehoru tidak menjanjikan. Dia dan isterinya kemudian hengkang ke SBT dan bergabung bersama nelayan Sesar menyasar perairan Raja Ampat.  

Kini La Ganti dan keluarga kecilnya sudah memiliki rumah beton tipe modern, beberapa perahu motor tempel dan kendaraan roda dua. Istrinya yang pandai mengolah produk ikan asap, ikut mendongkrak pendapatan keluarga dengan membuka lapak kecil di tepi Jalan Trans Seram, samping Pelabuhan Sesar yang ramai dilalui kendaraan bermotor. Produk ikan asap yang dijual laris manis hingga keuntungan yang didapat berlipat-lipat.  

Drama kesuksesan La Ganti, setali tiga uang dengan La Turi yang datang dengan perahu mesin dalam pada tahun 2011.  Lima tahun berkiprah sebagai nelayan tangkap di perairan Maluku dan Papua, harta gono gininya terus menumpuk. Perahu legendaris yang dulu digunakan dari Sulawesi telah dipensiunkan karena fasilitas melautnya telah beranak pinak. Kisah sukses serupa, diungkap penghuni dusun lainnya.

Staf Pemerintah Negeri Sesar Basri Simboto mengakui fenomena terbentuknya kampung nelayan berlangsung sangat cepat. Kampung itu bukan saja mengalami peningkatan penduduk secara signifikan,  dari sisi ekonomi,  mereka juga lebih mapan dari penduduk lokal. Perubahan yang begitu cepat dan nyata, kata Basri, dipengaruhi oleh faktor perdagangan ikan yang menggairahkan, karena penduduk lokal lebih condong ke usaha perkebunan kelapa, pala dan cengkeh.      

Dulu, jelas Basri, kawasan kampung nelayan dihuni komunitas hutan mangrove yang lebat. Namun pada 2005 atau dua tahun setelah Kabupaten SBT terbentuk, tiga gubuk nelayan yang berada di Tanjung Sesar dibongkar karena akan dikembangkan sebagai tempat wisata. Pemilik gubuk kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Negeri Sesar agar dibolehkan membangun gubuk tempat berteduh sementara di ujung kampung.

Seiring berjalannya waktu, arus kedatangan nelayan ke Kampung Sesar terus mengalir menyusul makin tingginya permintaan pasar. Pemerintah Negeri Sesar akhirnya menghibahkan lahan mangrove di ujung kampung sebagai lokasi pemukiman nelayan nusantara, hingga berkembang seperti sekarang. Namun, kata Basri, mereka telah dilarang memperluas pemukiman oleh Dinas Kehutanan Provinsi Maluku karena pemerintah daerah telah mengeluarkan larangan merusak hutan mangrove.   

Kini, jalan menuju perkampungan nelayan telah dibuka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) SBT. Sejalan dengan itu, Ruang Penyimpanan Ikan atau Cold Storage dibangun Dinas Kelautan dan Perikanan SBT untuk menampung seluruh hasil perikanan. Pos Polisi Air (Polair) Polres SBT juga telah berdiri di  samping cold storage  dan anak-anak mereka tak perlu jauh-jauh ke sekolah, karena fasilitas pendidikan sudah tersedia di kampung induk.     

Dari catatan statistik tahun 2013, jumlah penduduk Sesar tercatat sebanyak 1.050 orang dengan rincian laki-laki 569 jiwa dan perempuan 481 jiwa. Namun pada tahun 2018, jumlah penduduk Sesar telah meningkat menjadi 1.400 jiwa, padahal sebagian dari penduduknya telah pindah ke Kampung Gorom dan sekitarnya.  

Menetap di SBT, Melaut di Raja Ampat dan Fak Fak

La Samjono alias Jono, datang ke Kampung Sesar pada tahun 2007.  Saat itu, kampung nelayan masih sepi. Dari Buton, dia berperahu bersama orang tuanya, namun mereka berpisah di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Orang tuanya memilih tinggal di SBB karena di sana banyak terdapat perkampungan besar yang dihuni nelayan nusantara. Dia tak betah mencari ikan di SBB karena mata batinnya melihat peluang hidup di SBT jauh lebih menjanjikan.

Hal itu terbukti. Sepuluh tahun mencari makan di kampung nelayan, dia sudah memiliki sebuah rumah panggung layak huni. Dia juga sudah berkeluarga dan memiliki fasilitas penangkapan ikan yang lebih unggul dari nelayan lain. Hal yang dirasa tak mungkin dilakukan saat masih berada di Sulawesi Tenggara, kini terasa memungkinkan karena pondasi ekonomi yang dibangun selama berada di SBT telah mapan. 

Jono memang beruntung. Perahu motor tempel kebanggaannya saat ini jauh lebih besar dan ekonomis dibanding perahunya yang dulu. Dilengkapi 2 unit mesin Yamaha 40 PK  (Paarden Kracht), perahu fiber yang mampu mengangkut setengah ton hasil laut itu, tancap gas ke perairan Raja Ampat dan Fak Fak Papua Barat dalam hitungan dua jam. Jono menghabiskan uang Rp180 juta untuk mendapatkan perahu masa depan itu.

Dari Sesar, Jono dkk memburu ikan di perairan Raja Ampat dan Fak Fak. Pergi pukul 04.00 dinihari,  pulang pukul 17.00. Lama perjalanan ke daerah penangkapan 2 – 4  jam, tergantung dari jumlah dan  kecepatan mesin, serta kondisi perairan. Untungnya, meraka tak perlu lagi repot-repot memburu gerombolan ikan, karena di sana sudah tersedia sedikitnya 25 rumpon. Satu rumpon menelan anggaran sekira Rp20 juta dan diusahakan oleh beberapa orang.

Rumpon adalah alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Rumpon sering disebut karang buatan dan berfungsi sebagai  tempat berkumpul ikan. Rumpon sengaja dipasang oleh nelayan dengan menaruh berbagai jenis barang  seperti ban, daun kelapa, serta dahan, ranting dan batang  pohon. Barang–barang ini dimasukkan bersama alat pemberat berupa beton atau batu–batuan agar tidak terseret arus.

Rumpon yang dibuat nelayan Sesar adalah rumpon perairan dalam. Rumpon jenis ini dipasang pada perairan dengan kedalaman di atas 200 meter, untuk menjebak jenis-jenis ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi seperti Cakalang (Katsuwonus pelamis), Tongkol (Auxis thazard), Tenggiri (Scomberomorus sp), Tuna Madidihang (Thunnus albacares), Albakora (Thunnus alalunga), dll. Karena perairan di sekitar Kota Bula tak cocok dengan rumpon jenis ini, para nelayan memasangya di perairan Raja Ampat.

Di sana, terdapat juga rumpon-rumpon milik perusahaan ikan dari Kota Sorong, sehingga mereka bisa saling menopang dalam hal pengelolaan. Pihak perusahaan membolehkan para nelayan menangkap ikan di rumponnya, para nelayan membolehkan perusahaan mengambil ikan umpan di semua rumpon milik mereka. Laut yang kadang kejam, memberi inspirasi pentingnya sebuah kebersamaan dalam hidup. 

Ikut Menjaga Kawasan Konservasi Laut

Perairan Raja Ampat merupakan salah satu perairan di Indonesia yang kaya akan sumber daya hayati laut. Perairan ini berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah utara, Laut Seram di sebelah selatan dan barat, serta Distrik Sorong dan Laut Seram di sebelah timur. Terdapat empat gugusan pulau besar yang menjadi daerah destinasi wisata, yakni Waigeo, Misool, Salawati dan Batanta.

Menurut catatan penelitian tim ahli dari Conservation International, The Nature Conservancy dan Lembaga Oseanografi Nasional (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di periaran Raja Ampat terdapat lebih dari 540 jenis karang keras (75 persen dari total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska dan catatan tertinggi bagi gonodactyloid stomatopod crustaceans. Dari data ini para ahli menyimpulkan, tak satupun tempat dengan luas area yang sama memiliki jumlah spesies karang sebanyak itu.

Selat Dampier adalah kawasan terumbu karang lestari dengan persentase penutupan karang hidup hingga 90 persen. Selat ini berada di antara Pulau Waigeo dan Pulau Batanta, Kepulauan Kofiau, Kepulauan Misool Tenggara dan Kepulauan Wayag. Di beberapa tempat seperti di kampung Saondarek, saat pasang surut terendah, dapat disaksikan hamparan terumbu karang tanpa harus menyelam. Karang-karang di sini dapat beradaptasi sendiri hingga tetap hidup walau berada di udara terbuka dan terkena sinar matahari langsung.

Untuk menjaga kelestarian sumber daya hayati ini, usaha-usaha konservasi sangat getol dilakukan, baik oleh lembaga-lembaga internasional yang konsen terhadap kelestarian sumber daya alam seperti CI (Conservation International) dan TNC (The Nature Conservancy) maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Raja Ampat.

Upaya yang sudah dilakukan antara lain pengesahan perairan di sekitar Waigeo selatan, yang meliputi pulau-pulau kecil seperti Gam, Mansuar, kelompok Yeben dan kelompok Batang Pele sebagai Suaka Margasatwa Laut. Luas wilayah ini mencapai 60.000 hektare. Beberepa kawasan lain seperti Laut Misool Selatan, laut Pulau Kofiau, laut Pulau Asia, laut Pulau Sayang dan laut Pulau Ayau juga ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Laut.

Di perairan Kabupaten SBT sendiri, terdapat beberapa kawasan yang dilindungi dari aktivitas penangkapan ikan secara illegal dan berlebihan, yakni perairan Pulau Koon di Kepulauan Gorom dan pulau-pulau kecil di sekitar perairan Pulau Geser dan Neiden. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh LON LIPI Ambon tahun 2017, dijumpai kawasan terumbu karang yang masih lestari dan luas memanjang di perairan Keffing.

Koon adalah sebuah pulau kecil yang menyembul di perairan Kepulauan Gorom. Meski kecil, lembaga konservasi global, World Wildlife Fund (WWF), mengklaim perairan di sekitar pulau itu sebagai habitat ikan-ikan karang terbaik dan terbesar di kawasan Asia, melebihi Raja Ampat dan Banda. Terdapat jenis-jenis ikan karang bernilai ekonomi tinggi seperti Bobara Mata Besar dalam jumlah besar dan komunitas terumbu karang yang menakjubkan.

Para nelayan yang beroperasi di dua perairan ini tahu betul, kawasan mana yang boleh dilakukan penangkapan ikan dan kawasan mana yang dilarang. Atas dasar itu, mereka hanya memfokuskan operasi penangkapan ikan di rumpon-rumpon yang berada jauh dari kawasan konservasi. Jika pada musim paceklik mereka kesulitan mendapatkan ikan, maka kegiatan operasi dialihkan ke perairan Fak Fak dan sekitarnya karena mereka sudah berkomitmen tidak akan merusak kawasan konservasi.

Menurut nelayan, meski peluang untuk melakukan penangkapan ikan di kawasan konservasi sangat memungkinkan menyusu; tidak ketatnya pengawasan, dampak dari pengrusakan sumber daya lestari (carrying capacity) sudah pasti  akan berpengaruh terhadap kesuburan perairan dan stok ikan di rumpon. Olehnya mereka ikut menjaga dan memelihara kawasan lestari. .    

Bersatu dalam Kebhinnekaan   

Mesin mati adalah prahara teknis yang sangat ditakuti nelayan. Mesin mati dapat disebabkan oleh kerusakan mesin atau kehabisan bensin dalam perjalanan. Jika mesin mati disebabkan oleh kehabisan bensin, peluang mendapatkan pertolongan masih memungkinkan, karena dapat diatasi oleh mereka yang membawa BBM lebih. Namun jika mesin mati disebabkan oleh kerusakan mesin, peluang mendapatkan pertolongan sangat tipis. 

Kasus mesin mati di tengah laut adalah masalah klasik yang selalu menghantui nelayan, termasuk nelayan Sesar. Itu lah sebabnya, mereka tak berani melaut sendiri, kecuali di perairan sekitar yang ramai dilalui kapal motor penumpang. Di banyak tempat, kasus tenggelamnya perahu nelayan dipicu oleh mesin mati pada saat cuaca buruk, sedangkan pada saat tenang, mesin mati dapat menyebabkan perahu nelayan hanyut terseret arus.

Selain mati mesin, perubahan iklim dan cuaca ekstrim yang terjadi secara tiba-tiba juga mengancam keselamatan armada penangkapan ikan. Namun situasi ekstrim seperti itu dapat dideteksi oleh mereka dengan membaca tanda-tanda alam, sehingga upaya penyelamatan dapat dilakukan sebisa mungkin dengan cepat. Ancaman lain berupa pengrusakan rumpon, perompakan dan sejenisnya jarang dialami nelayan perahu motor tempel.

Menurut nelayan Sesar La Jono, solidaritas hidup antar sesama nelayan, baik nelayan nusantara maupun nelayan lokal, dikenal atau tidak dikenal, teruji sangat tinggi di lautan. Rasa senasib sepenanggungan, membuat mereka saling mengulurkan tangan jika terjadi musibah. Jika terjadi kasus kehabisan BBM atau mesin rusak misalnya, mereka yang punya BBM lebih dan keahlian mekanik dengan suka rela akan menawarkan bantuan.

Tolong menolong antar mereka terjadi secara alami, tanpa melihat perbedaan suku , warna kulit dan agama. Laut mempertemukan mereka pada satu tujuan, laut pula yang melarutkan perbedaan di antara dalam sebuah rasa kebersamaan. Meski secara ekonomi mereka bersaing  mendapatkan hasil tangkapan yang banyak, namun secara psikologi, mereka merasa bersaudara karena berada dalam rumah besar bangsa Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda Tapi Satu.     

Laut Indonesia Sumber Kemakmuran

September adalah bulan spesial bagi nelayan Sesar, karena menandai dimulainya musim penangkapan Tuna. Musim penangkapan Tuna di  perairan Seram dan Raja Ampat menurut nelayan Sesar, La Ganti, biasanya berlangsung dari bulan September – Desember. Namun pada musim ini, gelombang laut di  daerah fishing ground tidak tenang, sehingga sarana prasarana melaut harus disiapkan secara baik.

Alat penangkapan yang dipakai nelayan Sesar untuk menangkap Tuna adalah Huhate atau pole and line.  Alat ini sering disebut pancing cakalang dan dioperasikan pada saat terdapat gerombolan ikan di sekitar rumpon. Mata pancing huhate ditutupi bulu-bulu ayam atau potongan rafia yang halus untuk mengelabui ikan sehingga banyak yang tertangkap.

Pada puncak musim Tuna, nelayan Sesar selalu pulang dengan membawa hasil maksimal. Motor perahu tempel disesaki hasil tangkapan, namun tak boleh melebihi daya angkut. Kebanyakan yang tertangkap adalah Tuna jenis skipjack, kadang Madidihing dan Tuna sirip panjang atau Albakore. Ikan yang tertangkap biasanya diolah menjadi Tuna loin sebelum dijual ke cold storage atau pedagang pengumpul.

Tuna loin adalah produk hasil olahan Tuna  segar yang dimulai dari penerimaan bahan baku, penimbangan, penyiangan, pencucian , penyimpanan sementara atau pendinginan, pencucian,  pemotongan kepala, pembuatan loin, pembuangan daging hitam, pembuangan kulit, perapihan, penyuntikan CO, pendinginan, perapihan ulang, pengemasan, pembekuan dan penyimpanan dalam cold storage.

Harga satu kilogram Tuna loin di kampung nelayan bervariasi, tergantung dari jenis Tuna. Namun rata-rata berkisar antara Rp45 ribu – Rp55 ribu, padahal harga pasar yang semestinya berada di kisaran  Rp90 ribu – Rp110 ribu. Meski demikian, mereka tak ambil pusing, karena fokus mereka lebih tercurah  ke upaya mendapatkan hasil tangkapan yang banyak setiap hari.

Rata-rata dari mereka memproduksi Tuna loin antara 50 - 70 kg pada puncak musim panen. Angka ini jika dikalikan dengan harga jual Rp45 ribu per kg, maka hasil yang diperoleh rata-rata antara Rp2,75 juta -  Rp3,15 juta. Jika dikurangi dengan ongkos yang dikeluarkan untuk membeli bensin dan lain-lain sebesar Rp500 ribu, maka keuntungan yang diperoleh para nelayan setiap hari berkisar antara 2,23 juta – Rp2,65  juta. Sungguh menggiurkan.        

Jadi, wajar jika kesejahteraan nelayan Tuna di kampung Sesar cepat melejit, bahkan mulai meninggalkan kampung induk. Kemenangan demi kemenangan yang mereka peroleh di perairan Maluku dan Papua menunjukkan nikmatnya berada dalam pangkuan ibu pertiwi, karena laut bukan saja menjadi sumber kemakmuran, tapi juga samudera rasa yang  menyatukan segala perbedaan.

Dari berbagai literatur diketahui Indonesia  memiliki  potensi  sumber  daya  perikanan  yang  sangat  besar  baik  dari  segi kuantitas   maupun   keanekaragamannya. Potensi   lestari  (Maximum   Sustainable   Yield/ MSY) sumber  daya  perikanan  tangkap  diperkirakan  sebesar  6,4  juta  tonper  tahun, sedangkan  potensi yang dapat dimanfaatkan (allowable catch) sebesar 80 persen dari MSY yaitu 5,12 juta ton per tahun.

Namun,  telah  terjadi  ketidakseimbangan  tingkat  pemanfaatan  sumber  daya antar  kawasan  dan  antar  jenis  sumber  daya, di mana di sebagian  wilayah  telah  terjadi  gejala tangkap lebih seperti di Laut Jawa dan Selat Malaka, sedangkan di sebagian besar wilayah timur tingkat pemanfaatannya masih di bawah potensi lestari. (AL)

  • Tentang Penulis

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

  • Tentang Editor

    Abdullah Leurima

    Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00