• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kriminal

Kelabui Polisi, Merkuri Dikemas dalam Kelapa

17 May
17:12 2019
0 Votes (0)

KBRN, Ambon : Aparat Kepolisian mengungkap modus baru penyelundupan merkuri. Kali ini pengiriman bahan beracun berbahaya (B3) dikemas dalam 76 buah kelapa seberat 127 kilogram melalui Pelabuhan Yos Sudarso Ambon berhasil digagalkan. 

Barang tersebut diangkut menggunakan truk dari Pulau Seram dan hendak dikirim ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Anggota Polsek Pelabuhan Yos Sudarso Ambon menaruh curiga pada isi kontainer, kemudian membongkarnya. Saat dibongkar didapati buah kelapa dengan bekas lem berisi cairan berwarna perak. 

"Hari Minggu ada petugas melaporkan mereka amankan truk kontainer sedang bongkar muat kelapa. Proses pengecekan proses pengangkutan ke peti kemas tidak biasanya. Petugas curiga kelapa ada bekas lem, curiga lagi kelapa ditutup kayu. Kelapa dilemparkan ke jalanan saat terlepas keluar cairan perak," ujar Direskrimsus Polda Maluku Kombes Pol Firman Nainggolan saat memberkan kronologi penyelundupan, Jumat (17/5/2019). 

Modus mengelabui polisi pun terbongkar. Dua pelaku YR dan AB ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya yang mengatur pengiriman barang berbahaya itu. Sementara keterlibatan tiga pelaku lainnya masih dalam pengembangan. 

"YR berperan sebagai sopir yang mengangkut buah kelapa berisi merkuri dari Pulau Seram. Sedangkan AB yang mengatur pengiriman kontainer," terangnya. 

Harga jual merkuri yang begitu fantastis Rp 1 juta perkilogram membuat bisnis ilegal inipun semakin diminati. Polda Maluku memberikan atensi penuh terhadap peredaran B3. Olehnya setiap muatan kontainer mendapat pengawasan ketat Polsek KPYS. 

"Kami juga sudah ada kesepakatan dengan pihak ekspedisi terkait angkutan bermuatan B3 bisa segera dilaporkan. Tapi kenyatannya ekspedisi Meratus bisa meloloskan muatan tersebut, nanti akan kami cari tahu," tandasnya. 

Ekspedisi Meratus yang memuat merkuri terancam dikenai sanksi karena telah melanggar kesepakatan dengan pihak kepolisian. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00